
Menjelang Agustus, ketika bapak-bapak membersihkan selokan, mengecat pagar, menyiapkan tiang bambu untuk penjor merah putih di sepanjang jalan depan rumahnya, seorang ibu sedang menggoreng ikan asin. Kepada anaknya, sang Ibu mengatakan: “Di Jakarta, orang-orang tidak memasang bendera merah putih,”.
Baca juga: Mee, Namaku (36)
Anaknya yang tergolong generasi Z, sambil menggeser-geser layar ponsel, menimpali dengan wajah dingin, “Bendera One Piece”. Ibunya tidak mengerti, yang ia tahu hanya bendera itu berwarna hitam bergambar tengkorak bertopi. Lain halnya anaknya, yang detik demi detik menikmati selancar di layar maya, sangat mengerti tentang bendera One Piece.
Bendera ini sekali waktu muncul, terutama saat kehadiran rombongan bajak laut untuk menghadapi lawannya. Adegan itu hanya ada dalam film animasi serial One Piece. Motif bendera One Piece bermacam-macam dalam film animasi serial ini yang dinamakan Jolly Roger sebagai lambang kelompok bajak laut. Kelompok bajak laut yang dipimpin Monkey D. Luffy bergambar tengkorak bertopi jerami disilang dua potong tulang. Tengkorak bertopi jerami karena Luffy, si pimpinan kelompok bajak laut ini, bertopi jerami.
Bendera One Piece tengkorak bertopi jerami ini dipasang di mana-mana, tidak hanya di Jakarta. Mengapa bendera tengkorak bertopi jerami ini yang banyak dipasang? Mungkin karena kelompok bajak laut yang dipimpin Luffy sering muncul dalam serial One Piece. Mungkin juga karena pesona tokoh utama, Monkey D. Luffy, seorang manusia (bukan monster) pemimpin bajak laut, tubuhnya kecil, kurus, bersahaja, tetapi memiliki kekuatan dahsyat dalam menghadapi lawan-lawannya. Namun, yang patut direnungkan, nilai apa yang terkandung dalam simbol bendera One Piece sehingga menginspirasi untuk dikibarkan saat menjelang peringatan kemerdekaan yang sakral ini?
Dalam setiap serial yang ditayangkan, film animasi ini mampu membalik persepsi penonton. Pada realitas, bajak laut dibayangkan sebagai perampok-perompok keji yang membegal kapal-kapal saat melintas di perairan laut. Dalam film ini bajak laut adalah hero yang melawan penindasan, merebut kemerdekaan, dan menegakkan keadilan. Saya menduga, pengibaran bendera One Piece ini, disadari atau tidak, berkaitan dengan nilai-nilai terakhir itu.
Kegelisahan masyarakat menemukan momentum saat negeri ini bersiap merayakan hari-jadinya ke-80. Perasaan tidak adil, tidak sejahtera, kesulitan menjalani hidup sehari-hari karena PHK menyeruak, kenyang pertarungan wacana demi wacana alias kuat di omon-omon, menemukan bentuk ekspresi dari film yang diikuti berupa simbol bendera hitam bergambar tengkorak.
Baca juga: Sastra Vs Penguasa
Ekspresi itu diharapkan dapat ditonton orang, direnungkan, untung-untung kalau ada tindak lanjutnya; sebuah tindakan nyata untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Alhasil, reaksinya menggema! Pengibaran bendera One Piece menjadi konten yang laris-manis ditonton orang. Kemudian diikuti dengan mengibarkan bendera yang sama sebagai solidaritas perasaan senasib dan sepenanggungan. Pengibaran bendera sebagai permohonan keadilan, kesejahteraan, kebebasan bersuara, tidak menggunakan alat negara untuk berhadap-hadapan dengan rakyatnya. Itu kesan logisnya!
Tanggapan pejabat pemerintah terpecah. Bagi formalis dapat dipastikan akan menggunakan pendekatan keamanan. Kegelisahan dengan mengibarkan bendera One Piece, dihadapi dengan peraturan dan hukum. Imbauan diikuti narasi sanksi-sanksi, diterapkan sampai lapis bawah dengan praktik razia, pemanggilan, interogasi, dan pembongkaran bendera yang sudah terlanjur berkibar di udara dan di dunia maya.
Masalahnya, apakah pengibaran bendera One Piece itu akan merobohkan negara? Apakah serta merta akan menggantikan sang saka Merah Putih yang terpancang dalam dada setiap orang Indonesia? Saya kira, jauh panggang dari api. Bendera Merah Putih masih berkibar di mana-mana. Dari tepi laut hingga puncak gunung, dari halaman gedung bertingkat sampai depan rumah bambu reot mau roboh. Penjor merah putih baris berjajar di sepanjang jalan kota dan desa. Tidak! Merah Putih akan tetap berkibar. Kata Gombloh selama darah masih berwarna merah dan tulang berwarna putih.
Atau kalau bendera-bendera hitam itu diturunkan esok pagi, keadilan dan kesejahteraan itu akan mengetuk pintu rumah mereka? Jika isi hati mereka (para pengibar bendera One Piece) dilihat, maka pengibaran bendera One Piece itu sebenarnya tak perlu dikhawatirkan, bahkan ditakutkan. Mereka memikirkan negeri ini, sebagaimana tujuan negeri ini didirikan, diproklamirkan.
Atau apakah ini kutukan era post-truth? Fakta tidak penting, yang penting itu citra. Bunyi perut tidak perlu didengar yang penting tampak gagah. Pengibaran bendera One Piece di tengah-tengah semaraknya Merah Putih akan melunturkan citra sang saka. Atau apa?
Baca juga: Semut-Semut Budaya
Atau kemerdekaan itu memang eksklusif? Seperti kata Putu Wijaya dalam cerpennya, “Semula saya memang membuat lukisan Kemerdekaan ini untuk digantung di sini. Tetapi begitu tadi melihat sendiri dia sudah tergantung, hati saya berontak. Lebih baik Kemerdekaan digantung di dalam hati saja. Karena kalau sudah diobral begini, akan jadi porno, kita akan cepat sekali lupa!”.
Kita simpan semua masalah dalam hati dan pikiran masing-masing. Sekalipun alam juga memberi pelajaran kepada kita: jika Semeru tidak erupsi kecil-kecil setiap hari, kita justru menunggu gelegar erupsinya.
Merdeka!
(Editor: L. Nandini)
