Bilangan Fu; Pertarungan Nilai-Nilai Tradisional dan Modern

Bilangan Fu. Foto/Rahayu SJ

Judul              : Bilangan Fu
Penulis           : Ayu Utami
Penerbit         : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta
Cetakan         : Pertama
Tebal              : 536 halaman
Tahun Terbit : 2008

Bilangan Fu adalah novel yang mengusung tema tentang benturan tradisi, modernitas, spiritualitas, serta hubungan manusia dengan alam. Berlatar di kawasan perbukitan kapur Watugunung.

Baca juga: Mee, Namaku (5)

Novel ini mengisahkan tiga tokoh: Yuda, Parang Jati, dan Marja. Yuda, seorang pemanjat tebing yang skeptis dan rasional. Parang Jati, pemuda bijak yang memiliki pandangan berbeda tentang kehidupan. Sedangkan Marja, kekasih Yuda sekaligus penengah antara Yuda dan Parang Jati.

Marja, di awal kisah dinarasikan sebagai tokoh pelengkap. Ternyata ia bukan sekadar pelengkap cerita atau objek hasrat. Ia adalah representasi kompleks dari dualitas tradisional dan modernitas. Ia menjadi simbol bagaimana perempuan mencari tempatnya di tengah dinamika dunia laki-laki. Meski perannya tampak lebih kecil dibandingkan Yuda dan Parang Jati, kehadirannya justru memperkaya dimensi kemanusiaan dalam novel ini.

Ayu Utami, dengan gaya simbolik tersebut mengangkat Marja sebagai cerminan perempuan yang di satu sisi terikat oleh norma-norma tradisional, tetapi di sisi lain mencoba merengkuh kebebasan modern. Ia adalah suara yang diam-diam menggugat, menolak untuk didefinisikan hanya sebagai “pelengkap”.

Dalam interaksinya dengan Yuda, ia menjadi pengingat bahwa pertemuan laki-laki dan perempuan bukan sekadar tentang tubuh, tetapi tentang jiwa yang saling memenuhkan dan menciptakan keseimbangan.

Lebih jauh, Watugunung menjadi latar pertarungan nilai-nilai tradisional dan modern yang sejak awal mengemuka. Yuda, dengan latar belakangnya sebagai “anak kota tulen”, memandang dunia dengan logika ilmiah dan sering kali mempertanyakan hal-hal yang dianggap mistis.

Sementara Parang Jati, pemuda yang sejak kecil tinggal wilayah di pegunungan, justru mempercayai kearifan lokal. Ia menolak tawaran kuliah di Jepang, dan memilih studi di fakultas Geologi ITB demi kecintaannya pada Watugunung. Ketika kawasan perbukitan itu terancam eksploitasi perusahaan tambang, Parang Jati dengan sekuat tenaga merancang strategi untuk menyelamatkan Watugunung.

Baca juga: Tentang Sedih dan Bahagia

Ada hal menarik yang Parang Jati sampaikan tentang pengetahuan, yakni ada tiga jenis: pengetahuan yang tersimpan di otak, pengetahuan yang mengalir dalam darah, dan pengetahuan yang melayang-layang di udara. Kutipan ini mengingatkan kita bahwa tidak semua kebenaran dapat diukur oleh logika dan ilmu pengetahuan semata. Terkadang, ada intuisi atau pengetahuan spiritual yang hanya bisa dirasakan, untuk diuji, dilatih.

Konflik antara tradisi dan modernitas menjadi sebuah benang merah. Ayu Utami dengan piawai menggambarkan bagaimana modernitas, dengan segala kemajuannya sering kali membawa ancaman bagi alam dan tradisi. Yuda yang awalnya hanya peduli pada pendakian dan menaklukkan tebing perlahan-lahan mulai memahami filosofi hidup Parang Jati.

Watugunung, dengan segala misteri dan keindahannya, menjadi simbol dari kerinduan akan harmoni antara manusia dan alam. Novel ini pun menyoroti eksploitasi alam sering kali dilakukan demi kepentingan industri, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai spiritual dan keberlanjutan lingkungan.

Melalui sudut pandang orang pertama yakni Yuda, pembaca diajak merasakan pergulatan batin sang tokoh utama. Gaya bahasa Ayu Utami yang khas menambah kedalaman cerita. Dialog-dialognya diliputi dengan pemikiran yang mengajak pembaca merenung, kemudian berpikir.

Baca juga: Tetangga

Selain itu, karakter yang kuat antara Yuda sebagai representasi modernitas, Parang Jati sebagai penjaga nilai-nilai lokal, Marja menjadi penyeimbang, memberikan dinamika menarik dalam alur cerita.

Secara keseluruhan, Bilangan Fu selain sebagai kisah pendakian tebing atau pertemuan tiga tokoh, novel ini menggugah pikiran anak-anak muda untuk mau melihat alam sekitarnya, syukur-syukur bila mereka pendaki, pendaki yang berpikir.

Ayu Utami berhasil merangkai kritik sosial, spiritualitas, dan kearifan lokal dalam sebuah narasi yang mengalir. Novel ini mengingatkan kita bahwa kemajuan tidak selalu berarti menaklukkan alam, melainkan bagaimana kita bisa hidup selaras dengannya.

Bilangan Fu adalah karya yang meskipun bertema kehidupan anak muda, patut dibaca oleh siapa saja yang merindukan harmoni antara tradisi dan modernitas di tengah arus pragmatisme zaman.

Ampelgading, 18 Desember 2024

Rahayu SJ adalah seorang aktivis dan konten kreator asal Ampelgading, Kabupaten Malang. Ia telah menerbitkan tiga buku, 25 Mei, 27 April, dan Lekat dalam Kenangan Lalu. Saat ini, ia bekerja sebagai Public Relation di Lembaga Pendidikan dan Penyalur Tenaga Kerja ke Jepang.

(Editor: A. Elwiq Pr.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *