
Judul : Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?
Penulis : Kim Sang-hyun
Penerbit : Haru
Cetakan : Kelima
Tebal : 165 halaman
Tahun Terbit : 2021
Pernahkah kamu bertanya, siapa yang benar-benar akan peduli saat kamu tiada? Pertanyaan itu seolah menjadi pintu masuk bagi Kim Sang-hyun, untuk membongkar berbagai lapisan kehidupan dan perasaannya.
Baca juga: Trilogi Rara Mendut; Representasi Perlawanan Perempuan Jawa
Lewat bukunya yang berjudul “Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?”, ia tidak menawarkan tips trik hidup sempurna. Sebaliknya, ia mengajak kita duduk, mendengarkan ceritanya, mengetahui kekurangan dan kerapuhannya. Lantas kita mengalihkan pandangan, dan menyadari bahwa kita pun demikian.
Buku terjemahan yang bergenre self improvement ini, terbagi menjadi empat bagian: Kesalahan, Hati yang Hilang, Sejarah, dan Semoga Itu Kebahagiaan. Kim Sang-hyun, seorang penulis asal Korea Selatan, menyuguhkan refleksi dari pengalaman hidupnya yang penuh ketidaksempurnaan.
Bukan dengan nada menggurui, lewat tulisannya Kim Sang-hyun menghadirkan kejujuran yang apa adanya. Tidak ada teori self love, tidak ada filsafat, tidak ada ilmu psikologi, hanya kisah tentang dirinya yang, anehnya, terasa seperti (sebagian) kisah kita semua. Salah satunya, krisis identitas diri atau yang anak muda sebut quarter life crisis.
Sejauh ini, ini adalah salah satu buku self-improvement paling ringan yang pernah saya baca. Kim Sang-hyun seolah menanggalkan semua tamengnya, memaparkan kelemahannya tanpa malu-malu. Sebagai pembaca, saya tergerak oleh kesederhanaannya.
Baca juga: Mee, Namaku (2)
Dalam salah satu bab, ia mengungkap kekhawatiran tentang dirinya sendiri. Sebuah kerisauan tentang diri sendiri. “Siapakah aku? Akan jadi apakah aku? Ingin jadi apakah aku? Aku sudah memikirkan ini selama bertahun-tahun, tetapi masih saja tidak tahu aku ini orang seperti apa. Aku tidak tahu sosok seperti apa aku ingin dilihat, dan dengan hati dan pikiran seperti apa aku ingin hidup. Aku masih belum tahu persis tentang itu semua. Aku harus tahu tentang diriku. Jadi, aku ingin melihat lebih dekat hal-hal yang membentukku,” – Halaman 148.
Dengan membaca buku ini seperti bercermin, mendapati bahwa, “Oh, ternyata aku tidak sendirian,” atau “Bahkan di belahan bumi lain, apa yang dialami miliaran orang itu hampir sama,”.
Membaca buku ini, mengingatkan pada ajaran Memento Mori; mengingat hari kematian. Istilah Latin yang mengingatkan bahwa kematian tak terhindarkan. Berakar dari tradisi Romawi Kuno dan filsafat Kristen, konsep ini digunakan untuk menanamkan kesadaran akan kefanaan hidup.
Saat setelah kemenangan militer, masyarakat akan mengadakan pawai dan mengarak jenderal perang. Di belakang jenderal, akan berdiri seorang budak yang membisikkan kalimat “Memento mori!” untuk mengingatkan bahwa kejayaan ini fana. Bukan untuk menakuti, memento mori bertujuan mengingatkan manusia agar menghargai waktu dan menjalani hidup dengan lebih bermakna.
Baca juga: Hujan
Buku ini adalah pemantik refleksi akhir tahun yang dapat mengenali diri kita sendiri, siapa saja yang membentuk kita, apa yang penting, bagaimana kita menjalani hidup ini dan terakhir mau dikenang sebagai apa saat kita tiada nanti. Selamat berrefleksi. Selamat menjadi hidup yang lebih bermakna.
Ampelgading, 26 November 2024
(Editor: A. Elwiq Pr.)
