Orang-orang di Kota Tom Lake

Orang-orang di Kota Tom Lake. Foto/Kobis/Difratia Pr

Judul                     : Tom Lake
Penulis                  : Ann Pachet
Tahun                    : 2023
Jumlah Halaman : 309
ISBN                      : 78-1-5266-6427-3
Penerbit                : Bloomsbury Publishing, Inggris

Sebelum membaca dan mencermati karya Ann Pachet berjudul Tom Lake, saya terpikat karena sampulnya. Pada terbitan Harper US, tertulis menjadi pilihan klub buku Reese Whiterspoon. Sementara pada terbitan Bloomsbury UK ini hanya tertulis “The International Bestseller”.

Baca juga: Hati Nurani yang Tertebas

Mungkin tidak penting citra-citra itu, tetapi gambar bunga Daisy di padang rumput hijau sudah lebih dari cukup mengesankan. Saya belum pernah membaca karya Ann Pachet sebelumnya. Rupanya penulis Amerika yang baru saya ketahui ketika menulis resensi ini, memiliki banyak penggemar. Setidaknya begitu informasi dari komunitas membaca alias bookish di Instagram.

Tom Lake, tentang seorang ibu bernama Lara yang menceritakan masa lalunya sebagai aktor kepada tiga putrinya: Emily, Maisie, dan Nell. Lara tinggal di kebun Ceri (Cherry Orchard) di Traverse City, Michigan, bersama suaminya Joe. Lara dan Joe menjadi petani Ceri yang tengah menghadapi krisis pandemi Covid-19.

Kisah masa lalu Lara dimulai dari masa remaja di New Hampshire. Lara menceritakan bagaimana ia muak dengan orang-orang yang datang ke audisi teater Our Town, dan menilai calon pemeran Emily adalah sampah, meski ia tidak berhak menilai karena tugasnya di klub teater itu hanya menjadi penjaga meja registrasi.

Lara merasa, dirinya dapat memerankan Emily dengan lebih baik daripada semua orang yang mendaftar untuk audisi. Maka dengan modal nekat, ia tuliskan namanya sendiri “Laura Kenison”.

Baca juga: Mee, Namaku (1)

Dua kata kunci dari bagian awal novel ini adalah Cherry Orchard, dan Our Town. Jika familiar dengan karya klasik, kedua frasa tersebut pasti terdengar familiar. Banyak penulis resensi di Google yang mengaitkan Tom Lake dengan The Cherry Orchard karya Anton Chekhov. Dan memang benar! Ann Pachet di bagian mendekati akhir novel membuat satu karakter bernama Sebastian melafalkan dialog dari The Cherry Orchard.

Sedangkan Our Town, merupakan drama karya Thornton Wilder tahun 1983 dan disebut-sebut sebagai drama Amerika terbaik yang pernah ditulis. Setingnya berada di New Hampshire.

Saya baru pertama kali mendengar soal Our Town, berbeda dengan The Cherry Orchard. Novel terakhir ini, pernah dibahas saat kelas prosa saya sebagai contoh genre naturalisme. Sehingga tidak bisa langsung mengerti maksud dari referensi-referensi Our Town. Untungnya, Ann Pachet menuliskan penjelasan atas referensi itu dengan jelas, sehingga saya tidak lagi bertanya-tanya.

Our Town menceritakan sebuah sandiwara yang dipandu oleh Stage Manager. Dalam ceritanya terdapat dua keluarga. Yang satu Webb dan Gibbs, lainnya Emily Webb dan George Gibbs. Anak-anak dari kedua keluarga itu yang menjadi inti cerita.

Lara akhirnya berhasil memerankan Emily setelah audisi, dan peran itulah yang membawanya ke babak-babak besar dalam kehidupannya. Terutama di Tom Lake, sebuah daerah pinggir danau di utara Michigan, yang menjadi pusat teater.

Baca juga: Kawan

Seperti yang dideskripsikan di sinopsis bagian belakang buku, Lara terlibat romansa dengan bintang film terkenal, Peter Duke, yang dulunya pernah menjadi lawan mainnya di Tom Lake.

Ann Pachet menghidupkan banyak karakter dalam novel ini. Setiap karakter mendapatkan porsi ceritanya masing-masing. Selain Peter Duke, ada juga Sebastian Duke, kakak dari Peter. Lalu ada Pallace Clarke, Nelson, Albert Long alias Uncle Wallace, Bill Ripley, Lee, Benny Hopzafel, Veronica, Gene, Eric, Chan, Cat, nenek Lara, dan semuanya mendapatkan porsi cerita masing-masing dalam novel 309 halaman ini. Bagaimana mungkin?!

Karena ini kali pertama saya membaca karya Ann Pachet, saya kira beliau pandai sekali memainkan alur. Namun, ketika saya lihat review singkat para bookish di Instagram, ada juga yang kurang suka dengan novel ini. “Membosankan,”; “lambat,”; “alurnya membingungkan”, begitu kira-kira yang saya temui. Tetapi justru dengan alur maju mundur, serta nama karakter yang sama dan disamarkan membuat novel ini menjadi lebih berarti.

Saya berusaha merumuskan opini tanpa memberikan spoiler. Tetapi sebagai petunjuk, nama ketiga putri Lara diambil dari nama-nama orang yang berarti dalam hidup Lara.
Sebagai tambahan informasi, Tom Lake memiliki versi audio book, di mana Lara dinarasikan oleh aktor senior Meryl Streep (tertulis juga di sampul terbitan HarperAudio).

Usia Lara ketika menceritakan kisahnya memang 57 tahun, tetapi saya tidak membayangkan Lara seperti Meryl Streep, lebih seperti Julia Roberts, dan ketika Lara muda dia seperti Lily Collins.

Novel-novel bergenre slice of life (menyatut istilah para penonton drama Korea) ini, biasanya memberikan plot twist yang tidak terduga dan selalu ada plot twist-nya. Sungguh saya menunggu plot twist itu, dan tidak saya temukan sampai menjelang akhir novel. Jika memang berencana membaca karya Ann Pachet ini, lebih baik membuang segala ekspektasi yang ada.

Baca juga: Trilogi Rara Mendut; Representasi Perlawanan Perempuan Jawa

Saya ulang tulisan yang sudah saya unggah di Instagram; kesalahan terbesar adalah membaca Tom Lake dengan memikirkan review seperti apa yang sebaiknya saya tulis, berapa bintang yang harus saya berikan, dan lain sebagainya. Tom Lake seharusnya dibaca tanpa ekspektasi, hanya sebagai teman yang perlu kita dengarkan ceritanya.


Difratia Pr, lebih banyak membaca fiksi, terkadang non fiksi tentang psikologi seperti karya-karya Haemin Sunim. Ia menyelesaikan program magister Cultural Studies di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (2022). Saat ini bekerja sebagai editorial assistant pada jurnal terindeks Scopus binaan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.


(Editor: A. Elwiq Pr)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *