
Kekayaan budaya Indonesia, sangat beragam dan memiliki potensi yang sangat luar biasa. Menurut Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon Indonesia layak menjadi ibu kota kebudayaan dunia.
Baca juga: Ian Antono hingga Mbah Karimun Terima Anugerah Sabda Budaya
Potensi dan cita-cita menjadikan Indonesia, sebagai ibu kota budaya dunia ini, diungkapkan Fadli Zon saat membuka Borobudur Writer and Culture Festival (BWCF) ke-13 tahun 2024 di Jambi, pada Selasa (19/11/2024) malam.
“Potensi besar dari Muara Jambi, menjadi salah satu bukti bahwa kekayaan budaya nasional memang nyata. Kalau ada cita-cita menjadikan Indonesia sebagai ibu kota kebudayaan dunia, tidak berlebihan. Dari sekitar 100 negara yang sudah saya kunjungi, tidak ada yang budayanya sekaya Indonesia,” tegasnya.
Lebih lanjut Fadli Zon mengatakan, sangat senang bisa hadir membuka BWCF 2024 di tanah Jambi, yang sangat bersejarah. Menurutnya, keberadaan BWCF sebagai forum literasi, seni dan budaya, telah menjadi jendela budaya Indonesia di mata dunia.
Baginya, pemajuan kebudayaan sangat penting bagi bangsa Indonesia. Bahkan, dia menegaskan, pemajuan kebudayaan merupakan amanat konstitusi yang harus dijalankan. Pemajuan kebudayaan ini, telah termuat dalam Pasal 32 UUD 1945, dan Undang-undang (UU) No. 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon. Foto/Tangkapan Layar YouTube @borobudurwritersculturalfest
BWCF yang sudah kali ke 13 dilaksanakan, dinilainya sebagai salah satu wujud untuk pemajuan kebudayaan. “BWCF menjadi bukti pencapaian panjang forum literasi, seni dan budaya, yang mempunyai cakupan internasional. BWCF juga menjadi ruang dialog budaya, titik temu menghubungkan masa lalu dan masa kini. Masa lalu dan masa kini tidak dapat dipisahkan. Untuk merencanakan masa depan, harus mengetahui masa lalu dan masa kini,” imbuhnya.
Dia juga menegaskan, telah menyaksikan langsung keberadaan situs sejarah di Muara Jambi. “Potensinya luar biasa, tetapi masih banyak cerita narasi dan pengetahuan yang perlu diangkat kembali. Maka di sinilah pentingnya forum ini,” tegasnya.
BWCF ke-13 ini, mengangkat tema “Membaca Ulang Muara Jambi-Nalanda dan Arca-arca Sumatera, Mengenang Satyawati Sulaiman”. melalui tema ini, menurut Fadli Zon, semua pihak diajak menggali narasi sejarah dan nilai-nilai yang menghubungkan nusantara dengan dunia.
“Setelah membaca ulang, jadikan ini sebagai momentum untuk menulis ulang sejarah kita, bahwa kita salah satu yang memiliki peradaban tertua di dunia, serta pernah menjadi pusat pengetahuan, dan seni budaya, atau kiblat peradaban dunia. Untuk itu, peran para ilmuwan, arkeologog, sejarawan, filosof, dan civitas akademika sangat dibutuhkan dalam mengangkat potensi kekayaan budaya ini,” tegasnya.
Acara pembukaan BWCF ke-13 tahun 2024 yang disiarkan secara langsung di kanal YouTube @borobudurwritersculturalfest tersebut, dibuka dengan penampilan megah dari orkestra dan paduan suara mahasiswa Sendra Tasik Universitas Jambi.
Baca juga: Hati Nurani yang Tertebas
Sebelumnya, Kurator BWCF ke-13 Jambi, Cecep Eka Permana mengungkapkan, dalam pelaksanaan kali ini BWCF dinilai lebih bernyali. “Bukan saja keluar dari kawasan Borobudur, seperti tahun 2023 lalu yang diselenggarakan di Kota Malang, Jawa Timur, sekarang menyeberang dari Pulau Jawa, menuju ke Pulau Sumatera,” ungkapnya.
Dalam paparannya yang disiarkan secara langsung, Cecep mengatakan, perjalanan dari Jawa Timur, ke Sumatera ini mengingatkan kepada peristiwa abad 13, atau sekitar 800 tahun lalu. Di mana saat itu, Kerajaan Singhasari di bawah kekuasan Raja Kertanegara, melakukan perjalanan muhibah dan diplomatik ke Sumatera.
“Menurut sejarah, tujuan awal muhibah tersebut bukan ke Jambi, atau Muara Jambi, melainkan ke Kerajaan Dharmasraya, tetapi sudah bergeser ke pedalaman sekarang masuk wilayah Sumatera Barat. Hal ini dibuktikan dengan prasasti Padangroco, yang menjadi alas atau laptik arca Amogapaksa. Arca tersebut, sengaja dipersembahkan Kertanegara sebagai tanda persahabatan untuk Raja Dharmasraya, Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa,” terang Cecep.
Dia menambahkan, pemilihan tema membaca ulang Muara Jambi, bukan kebetulan mengikuti perjalanan Kertanegara, namun lebih didasarkan pada potensi kebudayaan yang ada di wilayah Muara Jambi, yang secara administrasi ada di Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muara Jambi, Jambi.
Banyak peninggalan sejarah abad 7-12 Masehi, yang ada di Muara Jambi. Peninggalan itu, berupa bangunan berbahan bata, umumnya berupa bangunan pemujaan atau candi, dan tempat pendidikan agama Budha, yang disebut vihara. “Keberadaan vihara di Muara Jambi, sangat banyak, besar dan luas. Tidak berlebihan kalau ini disebut Maha vihara,” terang Cecep.
Untuk melindungi warisan budaya di Muara Jambi ini, juga telah diterbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 259/M/2013. Dalam peraturan tersebut, telah ditetapkan satuan ruang geografis Muara Jambi sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) seluas 3.981 hektare. “Kawasan ini 24 kali lebih besar dari Ankor Wat di Kamboja,” imbuh Cecep.
Dia menyebutkan, hingga akhir 2024 ini, Muara Jambi menjadi prioritas dalam program revitalisasi cagar budaya. Bahkan, proses revitalisasi dapat terus ditingkatkan, sehingga dapat mendukung upaya mendorong Muara Jambi sebagai situs warisan budaya dunia Unesco.
Dari hasil pendataan yang telah dilakukan, di kawasan tersebut sudah teridentivikasi sebanyak 100 buah struktur bata kuno. Namun, dari jumlah hasil identivikasi tersebut, baru sembilan bangunan candi yang dipugar, yakni Candi Astano, Candi Kembar Batu, Candi Tinggi, Candi Tinggi 1, Candi Gumpung, Candi Gumpung 1, Candi Gedong, Candi Gedong 1, dan Candi Kedaton.
Cecep mengatakan, candi-candi yang ada di kawasan Muara Jambi ini tidak hanya menyimpan nilai sejarah, dan budaya, tetapi juga saksi bisu pertukaran nilai spiritual antar generasi. “Pelestarian candi ini, bertujuan menajamkan akal budi, menguatkan rasa kemanusiaan, serta menyusuri jejak masa lampau di mana Muara Jambi pernah menjadi poros pendidikan budhisme tertua,” ungkapnya.
Keberadaan Muara Jambi sebagai pusat pendidikan budhisme, juga terkait erat dengan Nalanda di India. “Hubungan antara Muara Jambi dan Nalanda, antara lain dapat dilihat dari catatan seorang biksu asal China, bernama I-Tsing, dan prasasti Nalanda,” terang Cecep.

Kurator BWCF ke-13 Jambi, Cecep Eka Permana. Foto/Tangkapan Layar YouTube @borobudurwritersculturalfest
Dalam catatannya, I-Tsing menyebut ada ribuan biarawan yang tekun belajar dan beribadah di Muara Jambi. Para biarawan ini tinggal di kawasan bertembok. Pelajaran yang dipelajari seperti yang ada di India, antara lain pancawidya, logika, tata bahasa dan susastra, metafisika, hingga filsafat.
Bahkan, dalam catatannya I-Tsing juga menegaskan, tata upacara yang dilakukan biarawan di Muara Jambi, sama dengan yang ada di India. I-Tsing menyarankan kepada para biksu dari China yang hendak belajar di India, lebih dahulu tinggal di Muara Jambi selama 1-2 tahun untuk melatih diri dengan benar.
Kawasan Muara Jambi, juga banyak dikunjungi para peziarah dari China dan India. Mereka belajar kepada guru besar yang ada di Muara Jambi, yakni Serlingpa Dharmakirti.
Sementara dalam prasasti Nalanda, berangka tahun 860 Masehi, disebutkan bahwa raja Kerajaan Pala, Raja Dewa Paladewa mengabulkan keinginan Raja Sriwijaya, Maharaja Balaputradewa, untuk membangun vihara di Nalanda, untuk para biksu dan pelajar dari Sumatera yang sedang berada di Nalanda. Keberadaan vihara ini, menyejajarkan reputasi Sumatera dengan Nalanda.
Lebih lanjut Cecep mengatakan, salah satu ciri penyelenggaraan BWCF adalah menghadirkan topik unik yang jarang dibahas orang. Kali ini, topik yang diangkat terkait arca-arca yang ada di Sumatera.
“Topik arca-arca di Sumatera ini, pernah ditulis Setyawati Sulaiman. Perempuan arkeolog pertama di Indonesia ini, tahun 1954 melakukan ekspedisi di Sumatera. Ekspedisi ini, menjadi penelitian awal tentang arca-arca di Sumatera,” ungkap Cecep.
Baca juga: Perkuat Literasi, Kobis Gelar Belajar Menulis Fragmen
Dari hasil penelitiannya, disebutkan arca-arca di Sumatera memiliki pengaruh dari masa Syailendra, Singhasari, Majapahit, hingga Srilangka. Pada tahun 1978, ditemukan arca Pratnya Paramitra yang mirip di Jawa Timur. Selain itu ada arca Duarapala yang penampakannya lebih tenang.
Cecep menjelaskan, dalam forum BWCF 2024 ini, hadir para pembicara, peneliti, dan ahli budaya dari dalam dan luar negeri. “Semoga pemikiran-pemikiran yang muncul di BWCF 2024 ini, menjadi energi positif untuk menyokong gagaasan Indonesia menjadi ibu kota budaya dunia,” tegasnya.
Penyelenggaraan BWCF 2024 di Muara Jambi, mendapatkan dukungan penuh dari Rektor Universitas Jambi, Helmi. Menurutnya, BWCF dapat semakin membuka prespektif terhadap landscape dan kebudayaan Jambi di ranah internasional. “Kami senang bisa hadir dalam BWCF ke 13, dengan tema Membaca Ulang Muara Jambi-Nalanda, dan Arca-arca Sumatera Mengenang Setyawati Sulaiman,” tuturnya.
Jambi dengan peninggalannya, menurut Helmi telah melahirkan budaya yang terkoneksi dengan tradisi yang panjang, serta memiliki hubungan erat dengan peradaban dunia. “Jambi memiliki sejarah dalam perkembangan peradaban dunia. Universitas Jambi memiliki berbagai jurusan untuk mendukung pengembangan kebudayaan, dan berkomitmen untuk memberikan dukungan dalam pemajuan kebudayaan,” tegasnya.
Hal senada juga ditegaskan Penjabat (Pj) Gubernur Jambi, Sudirman. Dia menegaskan, Jambi memiliki sejarah panjang, dan kaya khasanah budaya. Posisi geografisnya sangat strategis, karena berada di tengah Pulau Sumatera, menghadap langsung Selat Malaka, dan dilintasi sungai terpanjang di Sumatera.
Sementara terkait KCBN Muara Jambi, Sudirman menegaskan, KCBN Muara Jambi memiliki kompleks candi yang sangat megah, simbol peradaban nusantara. “Kawasan ini pernah menjadi pusat pendidikan budhis. Sejarah membuktikan, tanah Jambi memiliki peran penting dalam perkembangan budaya dan spiritualitas global,” ungkapnya.
“BWCF menghadirkan kegiatan yang inspiratif, untuk pengembangan kebudayaan. Kebudayaan adalah akar dan pondasi untuk terus dikembangkan. Ini juga memperkuat keberadaan Muara Jambi, untuk menjadi warisan budaya dunia Unesco. Kita berhadap melalui festival ini, dapat menggali kekayaan budaya masa lalu, untuk kemajuan bersama,” pungkas Sudirman.
