Trilogi Rara Mendut; Representasi Perlawanan Perempuan Jawa

Trilogi Rara Mendut; Representasi Perlawanan Perempuan Jawa. Foto/Kobis/Rahayu SJ

Judul      : Rara Mendut; Sebuah Trilogi
Penulis   : Y.B. Mangunwijaya
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2008
Tebal      : 799 halaman

Trilogi Rara Mendut karya YB Mangunwijaya, adalah cerita rakyat tanah Jawa yang menghidupkan kisah perempuan-perempuan tangguh dari tanah Jawa di masa Kerajaan Mataram pada abad ke-17.

Baca juga: Emak, Ibu Filosofis Daoed Joesoef

Dengan nuansa sejarah dan budaya yang kental, trilogi ini menggambarkan perjalanan hidup tiga perempuan kuat, mandiri dan tak tergoyahkan. Lebih sering orang-orang menyebutnya trengginas (pemberontak).

Kisah klasik yang ditulis Romo Mangun pada tahun 1982 ini, menunjukkan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami oleh tiga perempuan.

“Tubuh kita mungkin dirampas, tetapi hati kita tidak. Nduk, sayangku Genduk. Sebentar lagi kau akan tumbuh menjadi seseorang yang cantik juga. Tidak mudah menjadi wanita cantik, Nduk. Tidak mudah. Apalagi di kalangan istana. Di sini kita hanya menjadi barang hiburan. Di luar, kita lebih mudah menjadi diri sendiri,”.– Rara Mendut, halaman 119

Buku Pertama – Rara Mendut

Dimulai dengan kisah Rara Mendut, seorang gadis pantai utara. Ia gadis dari Pati, hidup terampas dan diminati kalangan atas lalu menolak menjadi selir Sultan Mataram, Tumenggung Wiraguna. Ia rela membayar pajak demi kebebasannya daripada memuaskan nafsu birahi Wiraguna.

Mendut bersama dua dayangnya Ni Semangka dan Genduk Duku, menjual rokok di pasar. Lebih tepatnya, putung rokok bekas hisapan Rara Mendut. Aksi ini bukan sekadar bergadang (berniaga), melainkan bentuk perlawanan yang terbungkus dalam keberanian dan pemberontakan.

Baca juga: Ian Antono hingga Mbah Karimun Terima Anugerah Sabda Budaya

Hubungannya dengan Pranacitra, kekasih sejatinya, menegaskan bahwa kebebasan pribadi dan cinta adalah hak setiap manusia. Demi mempertahankan cintanya, dua sejoli itu meninggal dunia dengan cara yang tragis.

Melalui Rara Mendut, Romo Mangun menuturkan semangat feminisme dan hak perempuan dalam mengambil pilihan hidupnya sendiri, bahkan di tengah tekanan besar (kekuasaan).

Buku Kedua – Genduk Duku

Genduk Duku adalah dayang setia Rara Mendut. Kisah hidupnya setelah kematian puannya adalah bukti kekuatan hati yang diwariskan oleh sosok Rara Mendut.

Melalui perjalanan ke Pantai Utara dan pernikahannya dengan Slamet, ia mencoba menjalani hidup baru, namun harus kembali berhadapan dengan prajurit Mataram yang kejam.

Baca juga: Aku Menunggumu Disini

Kehidupan Genduk Duku sarat dengan kehilangan, mulai dari kematian Rara Mendut hingga kehilangan Slamet yang mengorbankan nyawanya untuk orang lain.

Melalui karakter Genduk Duku, Romo Mangun menggambarkan pengorbanan yang tulus dan kepedihan hidup yang berusaha diselami dengan hati besar dan kebijaksanaan.

Buku Ketiga – Lusi Lindri

Lusi Lindri, anak Genduk Duku, melanjutkan warisan keberanian dalam kisahnya sendiri. Gadis ini tumbuh di lingkungan yang lebih aman di Puri Jagaraga, di bawah bimbingan Tumenggung Singaranu. Meski demikian ia tetap mewarisi semangat bebas ibunya.

Dia sering menjalani misi-misi rahasia, memupuk keberanian, dan kecerdikan yang mengingatkan kita pada Rara Mendut. Walaupun cintanya kepada Hans tidak terwujud, ia memilih berkompromi dengan kenyataan dan menikah dengan Peparing.

Sosok Lusi Lindri, menampilkan kekuatan perempuan yang tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga meneruskan ajaran tentang nilai kehidupan, dan kebebasan kepada generasi mendatang.

Baca juga: Dialektika Marx dan Engels

YB Mangunwijaya dengan piawai menyusun trilogi ini. Ia menggunakan banyak bahasa Jawa kuno. Latar belakang sejarah era Mataram pun dibalut pandangan hidup yang teliti, rumpil, dan penuh konflik politik.

Kita bisa mendapat gambaran kekuasaan, dan pengaruh kolonialisme yang membayangi kehidupan era tersebut. Setiap karakter perempuan dalam trilogi ini, bukan sekadar tokoh cerita tetapi simbol bagi perlawanan dan pengorbanan kaum perempuan di bawah bayang-bayang patriarki.

Kehadiran tokoh laki-laki seperti Wiraguna, Pranacitra, Hans, Slamet, serta Peparing juga menambah dimensi cerita dari sisi humanis. Kisah ini lebih dari sekadar kisah cinta. Ini adalah refleksi tentang nilai manusia, pergolakan batin, dan perjuangan.

Trilogi Rara Mendut memang kisah heroik. Wacana feminisme dituang dengan seimbang. Perlawanan terhadap ketidakadilan dan perjuangan kemanusiaan yang ditulis dengan mendalam.

Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri adalah representasi perempuan-perempuan yang tetap teguh pada prinsip mereka meski harus berhadapan dengan kekuasaan. Sedikitnya kita mendapat gambaran demikian meskipun dalam kenyataan akan sulit menjumpai pribadi sekuat itu.

Baca juga: Kopi, Tragedi, dan Desa Bakung (2)

Romo Mangun berhasil menghidupkan roh perlawanan perempuan Jawa, dengan cara yang indah dan menggugah. Akhirul kalam, Trilogi Rara Mendut yang dikemas dalam Saga ini merupakan bacaan yang penting untuk memahami kekuatan, kebebasan, dan cinta dalam konteks budaya Jawa.

“Penderitaan yang dikemudikan hati nurani yang sehat, itu nanti yang akan jadi mahagurumu,” Puan Buchori (halaman 707)

Turen, 1 November 2024

 

(Editor: A. Elwiq Pr.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *