
Friedrich Engels, editor karya Karl Marx berjudul Das Kapital, berasal dari Wuppertal, Lembah Wupper, Jerman. Tepatnya di dukuh Barmen. Ia mulai menulis “laporan” tentang tanah kelahirannya sejak usia 19 tahun.
Baca juga: Pertemanan Marx – Engels dan Terciptanya Das Kapital
Engels seorang perasa yang mau mengambil sikap: peduli, peka, dan kritis di antara kehidupan mapan lingkungannya. Gambaran kehidupan di lembah bawah dan atas yang kontras di wilayah Wupper, rinci diutarakan oleh Engels. Bahkan, cukup mudah untuk dibayangkan.
Wuppertal hari ini tentu berbeda dengan gambaran Engels pada abad ke-19. Namun dengan membaca tulisan Engels ihwal kontur wilayah, letak tempat-tempat ibadah, gaya arsitektur, posisi jembatan dan sungai yang mengalir membelah wilayah atas dan bawah, maka kita memperoleh lukisan masa lalu Wuppertal.
Engels adalah ahli strategi. Putri-putri Marx menjulukinya Sang Jendral. Perjumpaan Engels dan Marx terjadi saat Engels berusia 22 tahun, sedangkan Marx berusia 24 tahun.
Engels baru mengetahui latar belakang Marx, ketika Marx menjadi editor Rheinische Zeitung, tempat di mana ia mengasuh kolom editorial. Melalui kolom itu, Marx secara terang-terangan memperjuangkan hak para petani di wilayah bekas kerajaan Prusia, asal Marx. (Rayuan Ilmuwan Das Kapital, Kobis 8/10/2024)
Tiga tahun sebelum perjumpaannya dengan Marx, Engels menulis dalam format telegraf–sejak Maret 1839. Ia mengurai reputasi buruk dukuh Elberfeld dan Barmen yang membentang di sepanjang lembah Wupper. Ia lukiskan dengan kalimat-kalimat panjang khas penutur Jerman.
Dalam jarak pandang Engels, jangkauan dua dukuh tersebut hampir tiga jam jalan kaki. Amatannya tertuju pada arus sungai yang membelah dua wilayah menjadi bawah dan atas. Engels tinggal di wilayah atas. Sehinngga, dukuh Elberfeld di bagian bawah bisa leluasa dipandangnya.
Sungai sempit Wupper meliuk di antara gunung-gunung yang tidak terlalu tinggi. Terkadang menjulang dengan lembut, terkadang curam, berhutan lebat, dan berbaris gagah menuju padang rumput hijau. Ketika cuaca cerah, langit biru yang terpantul di seantero pegunungan Wupper tampak kontras.
Baca juga: Kopi, Tragedi, dan Desa Bakung (2)
Ketika air sungai mengalir deras dan berwarna ungu atau merah, Engels mengartikulasikannya begini: “Warna merah cerahnya bukan disebabkan oleh pertempuran berdarah karena pertempuran di sini hanya dilakukan oleh pena para teolog. Juga oleh perempuan-perempuan tua yang cerewet, biasanya karena hal-hal sepele seperti rasa malu atas tindakan pasangan mereka. Ini memang bisa jadi alasan untuk melakukan pertempuran berdarah-darah. Tetapi secara sederhana, semata-mata karena pabrik-pabrik tekstil mengonsumsi pewarna merah Turki,”.
Sungai mengalir deras warna ungu atau merah Turki, itu sejatinya jarang terjadi. Acapkali alirannya melamban di antara gedung-gedung pabrik yang berasap di kawasan bawah. Engels muda memikirkannya lama: penampilan sungai Wupper menyedihkan dan sangat mengecewakan.
Berawal dari memikirkan sungai, Engels mulai mempertanyakan manusia-manusia yang berada di sekitar aliran sungai. Ia memetakan lebih dulu di mana saja letak tempat-tempat ibadat berdiri. Ia tulis: di sekitar tebing, engkau akan melihat menara-menara kuno Elberfeld tepat di depan rumah-rumah sederhana yang tersembunyi di balik semak perdu. Beberapa menit berjalan, engkau mencapai kawasan Sion, mereka penganut obskurantis (orang-orang yang membatasi pengetahuan). Hampir keluar dari Elberfeld, terdapat gereja Katolik. Lokasinya ada di tepi dusun, seolah-olah diusir keluar dari tembok suci. Gereja itu bergaya arsitektur Bizantium, dibangun dengan sangat buruk oleh arsitek yang sangat tidak berpengalaman meskipun dengan rancangan yang bagus.
Demikian beberapa bangunan peribadatan di Elberfeld yang Engels uraikan dalam telegrafnya. Termasuk, tentang beberapa gereja yang telah beralih fungsi–selain sebagai balaikota, penjara, bahkan digunakan sebagai kasino.
Balai kota, baru setengah selesai dibangun kembali. Menghilangkan kesan sebuah gereja, letaknya canggung karena kurang ruang. Bagian depan menghadap ke sisi jalan yang sempit dan buruk berlumpur. Adapun di ujung jalan, sebuah jembatan bagus ditunjukkan Engels. Apabila seseorang berniat mengelilingi Wupper, maka akan tahu bahwa ia sedang mendekati Barmen. Situasi Barmen: bangunannya lebih ramah. Rumah-rumah besar dengan gaya modern menggantikan bangunan-bangunan Elberfeld yang serampangan.
Dari kawasan Barmen, Engels memutar dan kembali menyusuri jalanan Elberfeld yang suram. Situasi itu tidak dipedulikan oleh penduduknya. Tidak ada jejak kehidupan masyarakat sehat dan penuh semangat. Pada pandangan pertama, tampak sebaliknya. Saat berjalan kaki ke lembah sisi bawah, Engels pun mendengar orang-orang riang gembira, berjalan iring-iringan menyanyikan lagu-lagu paling vulgar dan amoral.
Mereka berjalan dari kedai bir. Engels melintasi kedai-kedai bir yang penuh sesak hingga meluap, terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Ketika kedai tutup 23.00, menjelang tengah malam, para pemabuk keluar lalu roboh ke selokan. Yang paling terdegradasi di antara orang-orang ini adalah mereka yang dikenal sebagai Karrenbinder, orang yang mengalami demoralisasi dan tidak memiliki tempat tinggal tetap dengan pekerjaan serabutan. Setiap pagi mereka merangkak keluar dari tumpukan jerami, istal, bahkan di dekat tumpukan kotoran atau di tangga-tangga tak bertuan.
Baca juga: Lembah
Kegelisahan Engels membuncah hingga ubun-ubun. Ia benar-benar memikirkannya siang dan malam. Di antara kehidupan keluarga yang mapan dan terpenuhkan, si sulung sembilan bersaudara dari salah satu tuan pemilik pabrik tekstil itu melihat fakta ketidakadilan.
Alasan Karrenbinder makin besar jumlahnya, sangat jelas. Pertama dan terpenting, pekerjaan pabrik mempunyai tanggung jawab besar. Bekerja di ruangan bersuhu rendah di mana orang-orang lebih banyak menghirup asap dan debu batu bara, ketimbang oksigen.
Di sebagian besar kasus, bekerja sudah dimulai pada usia enam tahun. Ini membuat mereka kehilangan semua kekuatan dan kegembiraan hidup. Para penenun yang memiliki alat tenun sendiri di rumahnya, duduk membungkuk di depan mesin tenun dari pagi hingga malam. Jelas mengeringkan sumsum tulang belakang.
Bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan batin mereka? Kalau tidak menjadi mangsa mistisisme, maka akan dirusak oleh minuman keras. Mistisisme disampaikan para pemuka agama dalam bentuk kasar dan menjijikkan. Di sisi lain, ada kubu ekstrem, dengan kaum yang memilih kegembiraan hingga tersungkur karena mabuk sebagai riff-raff (kaum urakan). Dua kelompok saling bermusuhan itu menghancurkan semangat kerakyatan. Sama-sama menjadi bagian dari masyarakat sakit.
Orang sehat hanya ditemukan di kalangan tukang kayu atau pengrajin, yang semuanya berasal dari luar dukuh. Orang-orang kuat juga dapat ditemukan di antara para pekerja kulit kelahiran dukuh setempat. Namun jika tiga tahun berturut-turut berada di antara kehidupan tidak sehat, sudah cukup untuk menghancurkan.
Kemiskinan parah terjadi di kalangan kelas bawah, khususnya pekerja pabrik. Penyakit sifilis dan paru-paru tersebar luas. Sehingga di Elberfeld saja, dari 2.500 anak usia sekolah, 1.200 di antaranya tidak mendapat pendidikan. Mereka tumbuh di pabrik dengan bayaran setengah dari bayaran orang dewasa, dengan jam kerja penuh waktu.
Pada telegraf ke-50, Engels membuat kesaksian bahwa para pengusaha kaya mempunyai hati nurani plin-plan. Meskipun menyebabkan kematian anak-anak, itu tidak akan membuat jiwa Pietis (kesalehan) mereka terusik. Apalagi takut masuk neraka. Meskipun mereka pergi ke gereja dua kali setiap hari Minggu, faktanya adalah kaum Pietis di kalangan pemilik pabrik memerlakukan pekerjanya dengan cara paling buruk. Mereka berdalih untuk mengurangi upah buruh, agar mereka tidak mabuk-mabukan.
Catatan Engels ini, dalam uraian senada dengan data berbeda, ditulis Marx pada bab ke-10 “The Working-Day”, Das Kapital Volume I, dua puluh delapan tahun kemudian. Begini:
Pembuatan korek api merk Lucifer dimulai pada 1833. Era itu mulai digunakan metode pengaplikasian fosfor pada korek api. Pada 1845, pabrik tersebut berkembang pesat di Inggris dan telah meluas terutama ke wilayah padat penduduk di London, Manchester, Birmingham, Liverpool, Bristol, Norwich, Newcastle, dan Glasgow […] Separuh pekerjanya adalah anak-anak di bawah umur. Anak-anak muda berusia tiga belas tahun hingga delapan belas tahun. Pabrik tersebut benar-benar tidak sehat dan baunya sangat busuk. Kelas pekerja yang paling menderita adalah para janda setengah kelaparan, pun menyerahkan anak-anak mereka ke pabrik tersebut, “anak-anak yang compang-camping, kelaparan, dan bodoh,”.
Dari para saksi yang diperiksa ‘The Commissioner White’ (1863), 270 orang berusia di bawah 18 tahun, 50 orang di bawah 10 tahun, 10 orang baru berusia 8 tahun, dan 5 orang bahkan berusia 6 tahun. Adapun kisaran jam kerjanya antara 12 hingga 15 jam. Kerja malam dengan waktu makan tidak teratur. Sebagian besar makanan diambil di ruang kerja yang banyak mengandung fosfor.
Baca juga: Teman
Marx menulis itu semua dengan tabah, dan Engels merapikannya dengan sempurna. Kesaksian demi kesaksian Marx susun untuk memperkuat teori yang ia rumuskan.
Untuk “perlindungan” terhadap “penderitaan mereka yang mengular” para pekerja harus bersatu. Dan sebagai sebuah kelas mereka patut mendesak pengesahan sebuah undang-undang, sebuah portal sosial yang sangat kuat, demi mencegah para pekerja menjual jasa melalui kontrak sukarela terhadap pemodal, baik untuk melindungi diri mereka sendiri juga keluarga mereka agar tidak terjebak dalam perbudakan dan berakhir dengan kematian. Sebagai pengganti premis besar mengenai “hak-hak asasi manusia” muncullah Magna Charta yang sederhana mengenai hari (dan jam) kerja yang dibatasi secara hukum, di mana di dalamnya menjelaskan “kapan rentang masa kerja mereka dimulai dan berakhir,”.
Quantum mutatus ab illo. Semoga ada perubahan!
Turen, 29 Oktober 2024
(Editor: L. Nandini)
