Omon dan Imin

Jangan biarkan teknologi AI merebut versi terbaik kita sebagai penulis. Kalau kejadiannya seperti itu, maka penulis seperti apa kita ini? Penulis “omon-omon” yang tergiur “imin-imin”.

Pada 8 September 2024, saya berkesempatan menghadiri acara pagelaran musik komunitas seni jalanan di gedung Produksi Film Negara (PFN) Jakarta. Pada hari kedua, acara menampilkan seni graffiti dan street art (seni jalanan) yang berkolaborasi dengan musisi hip hop. Akhir bulan ini, 28-29 September, karya-karya terpilih akan punya kesempatan diwujudkan di tembok-tembok ruang publik area gedung PFN.

Baca juga: Mengapa Kita Harus Menulis?

Ini adalah rangkaian acara International Graffiti Festival. Acara ini tidak hanya ingin mencetak Rekor Muri dengan menghasilkan total 100 karya mural grafiti di 24 kota Indonesia, serta dari beberapa negara tetangga seperti Taiwan, Vietnam, Singapur dan Filipina. Kegiatan ini ingin menegaskan kedudukan Indonesia sebagai barometer seni graffiti dan street art di Asia.

Hal paling menarik dari acara, dan sangat menginspirasi, adalah pengantar dari sang pembawa acara. Pesannya pada pengunjung bersama peserta mural: jangan sekali-kali meng-endorse Judi Online di media sosial mereka. Jangan sekali pun mempromosikan hal itu. “Gue juga masih main, tapi gue nggak bagi-bagi link judol di media sosial gue. Dan elu, apalagi elu punya ratusan pengikut, elu juga harus punya sikap, seperti apa yang udah menjadi gerakan gue setahun ini: stop berbagi tautan judol di media sosial. Tentang elu maen, maen aja sendiri, karena dengan membagikan tautan, dampaknya bisa fatal. Kita nggak tahu siapa yang akan jadi korban, bisa jadi anak-anak kecil, seperti kasus-kasus yang telah terjadi.”

Ia wanti-wanti siapa saja yang aktif di dunia online, apalagi yang punya ribuan pengikut. Tentu akan melipatgandakan apapun. Bahkan sebaiknya menimbang dampak dari masalah yang bisa timbul.

Nah, terkait dunia saya di bidang penulisan, pun begitu. Persamaannya adalah hal yang sedang saya hadapi kini tak lepas dari melejitnya kuasa teknologi di dunia internet. Dalam hal ini, para penulis menghadapi dilema dari apa yang ditawarkan teknologi AI.

Teknologi mengandung “imin-imin” kemudahan ini, memang menggoda siapapun untuk potong Kompas. Tentu apa-apa akan jadi mudah. Apalagi bila berdasarkan standar, karya-karya dihasilkan teknologi ini selain meringkas waktu berproses, juga bisa jadi relatif lebih baik dari karya seorang penulis yang telah berproses menulis selama 5 tahun sekalipun. Sangat mengandung rayuan maut.

Apabila dominasi teknologi terhadap kreativitas memang sesuatu yang niscaya, maka bisa saja AI menjadi daya ungkit suatu karya. Seorang penyair tanpa akses ke pemusik, dengan bantuan AI, tentu bisa mewujudkan musikalisasi karya dari syair-syair buatannya. Demikian pula sebaliknya, seorang pemusik mumpuni sekali pun yang bisa jadi memiliki keterbatasan menulis syairnya, ia juga bisa memanfaatkan teknologi AI guna membantunya untuk memilih kata-kata enak mewakili melodi indah yang telah ia buat.

Itu sah-sah saja. Mengingat, kita pun membutuhkan hal-hal yang mudah (baca:praktis) untuk urusan rumit atau bahkan jalan buntu. Apalagi, kemanusiaan kita mengandung kelebihan dan kekurangan. Menempatkan alat bantu sebagai sekadar alat bantu, dan secara sadar menjadikan dirinya tidak terjajah oleh teknologi, adalah hal penting. Saya rasa itu terpulang pada nilai standar dan kebijakan masing-masing.

Baca juga: Erfurt

Namun, apabila kita sebagai penulis, membiarkan teknologi merenggut kesempatan kita untuk memberikan versi terbaik atau kekuatan terbaik kita kita dalam menulis, apakah itu bukan imin-imin yang menjadi kita hanya omon-omon saja? Omdo. Omong doang yang gede. Omong doang jadi penulis. Padahal, yang menulis adalah AI.

Omong-omong, sepupu saya penulis. Dia penulis nan baik. Dia mempunyai kemampuan analitis dalam mewujudkan pikirannya menjadi sebuah tulisan. Dalam ilmu kedokteran, dikenal diagnosis. Keduanya adalah sebuah proses yang sama-sama menggunakan kecerdasan kita untuk dapat mengerti persoalan dan melakukan tindakan.

Sebelum menutup opini ini, izinkan saya berbagi pengalaman pagi ini. Pagi hari, sambil mengayuh sepeda stationer, saya menonton serial House. Tayangan musim ke-2 episode 10, ditutup dialog dua orang dokter di sebuah ruangan laboratorium:

Malaria Selebral.”//“Akan kuberi dia quinidine.”

“Jika manusia melihat darahnya, bukan melakukan tes lewat komputer, maka parasit akan ditemukan.”//“Risiko era elektronik.”

Lalu saya teringat apa yang ditulis dalam sebuah berita online. Menulis adalah salah satu “investasi” bagi masa depan yang mampu menggerakkan ide, konsep, dan gagasan untuk mengubah kehidupan. Apakah kita sebagai penulis akan dengan sukarela menyerahkan tugas ini kepada kecerdasan buatan?

Sedangkan dalam Temu Kobis 28 April 2023, jawaban beragam juga dilontarkan oleh hampir sebagian besar keluarga kelompok belajar menulis yang datang hari itu.

Baca juga: Sebuah Ciuman

Menulis punya banyak makna. Namun hasil diskusi singkat tersebut mengerucut bahwa kita menulis itu untuk membaca tanda. Menulis itu untuk berkomunikasi. Sehingga, ketika kita menulis ada tujuan yang ingin kita capai atau sampaikan, kepada siapapun yang membacanya, tergantung isinya. Tujuan menulis akan mempengaruhi bentuk tulisan.

Saya kira ini sebuah hal krusial, termasuk untuk menulis, tidak akan kita serahkan pada cara kerja era elektronik. Tentu saja di dalamnya berarti termasuk tidak terpikirkan pula untuk mengajak-ngajak.

Jatiasih, 9 September 2024

 

(Editor: L. Nandini)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *