Mengapa Kita Harus Menulis?

Mengapa kita harus menulis? Sebuah pertanyaan sederhana dengan jawaban beragam sesuai kondisi atau latar belakang si penjawab. Dalam Temu Kobis 28 April 2023, jawaban beragam juga dilontarkan oleh hampir sebagian besar keluarga Kobis yang datang hari itu.

Baca juga: Menulis dan Kesehatan Mental

Ada yang menyebut bahwa menulis itu membantu mendokumentasikan sebuah kejadian agar tidak lupa. Ada juga, menulis dilakukan untuk melepaskan perasaan dan emosi. Pun, menulis juga untuk mengimbangi membaca. Jadi, biar semangat membaca maka seseorang menulis.

Begitulah, menulis punya banyak makna. Namun hasil diskusi singkat tersebut mengerucut bahwa kita menulis itu untuk membaca tanda. Menulis itu untuk berkomunikasi. Sehingga, ketika kita menulis ada tujuan yang ingin kita capai atau sampaikan, kepada siapapun yang membacanya, tergantung isinya.

Tujuan menulis akan mempengaruhi bentuk tulisan. Jika seseorang ingin menulis untuk dirinya sendiri, maka bentuknya akan menjadi grundelan atau soliloquy. Meskipun, pada akhirnya, tulisan itu juga untuk dibaca orang.

Intinya, menulis itu, secara sadar atau tidak adalah karena kita ingin berkomunikasi. Entah dengan siapa.

Lalu, sejak kapan sebenarnya menulis itu menjadi bagian dari hidup manusia? Dosen Prodi Manajemen Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Padjajaran Teddy K Wirakusumah dalam opininya berjudul “Peradaban Berawal dari Aksara” di sebuah surat kabar nasional pada tahun 2015, menyebut bahwa tulisan pada awal perkembangannya lebih merupakan bentuk ungkapan seni simbolik.

Baca juga: Menakar Seribu Berkat

Tulisan berupa gambar (pictograph) yang dikembangkan oleh bangsa Sumeria (sekarang Irak selatan) sekitar 3000 sebelum masehi (SM), Mesir, India, China dan Meso-Amerika dalam perjalanannya, lebih berkembang pada pusat-pusat keagamaan dan kekuasaan. Tulisan menjadi lebih bersifat suci dan ideologis. Selain untuk menyimpan, mengawetkan, dan mengkomunikasikan ajaran dan aturan, Teddy menyebut, peran tulisan pictograph punya corak khas yaitu menggambarkan dunia seperti yang diinginkan penguasa.

Ketika tulisan fonetik (phonetic) dikembangkan pertama kali oleh Bangsa Phoenicia (sekarang menjadi Suriah) serta merta cara menulis ini memikat banyak minat. Cara menulis menggunakan lambang-lambang bunyi (phonograph) jauh lebih sederhana dan mudah dipelajari.

Abjad pertama dan kedua Bangsa Phoenicia yang berbunyi /aleph/ dan /beth/ oleh Bangsa Yunani diganti menjadi /alpha/ dan /betha/. Bangsa Romawi menyebutnya /a/ dan /be/. Sistem menulisnya pun diganti dari kiri ke kanan. Sedangkan Bangsa Arab menyebutnya /alif/ dan /ba/ dengan tetap mempertahankan cara menulis dari kanan ke kiri hingga sekarang.

Penulisan fonetis memperkenalkan suatu bentuk konversasi baru antar manusia. Tulisan menjadi pengganti bagi ujaran.

Baca juga: Pak Hakim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *