Jurnalisme Melawan Penindasan

Judul buku  : Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan Tulisan tentang Politik, Islam, dan Gay
Penulis        : Linda Christanty
Penerbit      : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta
Cetakan      : I, Februari 2009
Tebal           : xiv + 200 halaman

Linda Christanty, penulis buku ini mulanya adalah seorang aktivis pergerakan pada tahun 1990-an. Saat itu dia dan kawan-kawannya memiliki musuh bersama yakni kekuasaan Orde Baru. Mereka mengorganisir kekuatan massa untuk melawan rezim ini karena mereka anggap menindas, tidak adil, zalim, diskriminatif, dan korup.

Baca juga: Menulis Resensi

Ketulusannya menjadi aktivis membentuk nalurinya untuk bersimpati dan berempati pada setiap manusia yang miskin, tidak berdaya, tertindas, dizalimi oleh kekuatan lain. Dalam situasi apapun dia senantiasa menyuarakan perjuangan mencapai “kemerdekaan”. Maka, sentuhan-sentuhan pembebasan itu menjadikannya seorang humanis yang kuat.

Fase tersebut, sebelumnya didahului oleh tempaan wacana, bukan praksis lapangan. Pengenalan literer menjadikannya peka pada kata. Semasa kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, perempuan asal Sumatera ini tidak puas dengan teman-temannya yang hanya SPP (sistem pulang-pergi rumah-kampus). Maka ia melompat ke mahasiswa Sastra Prancis dan bergaul dengan karya-karya sastra negeri mode ini. Petualangannya juga dilakukan ke Sastra Jepang. Tak terhindarkan, dia sangat akrab dengan nama-nama besar seperti Haruki Murakami, Emile Zola, Albert Camus, André Gide, maupun Jean-Paul Satre.

Pada fase ini Linda terbentuk menjadi penulis sastra yang berbakat. Dalam usianya yang relatif muda, ia sudah mengantongi predikat penulis cerita pendek terbaik Kompas tahun 1988.

Pada tahun 1998 negeri ini berubah, ditandai dengan tumbangnya rezim Orde Baru. Namun, rantai Linda “Maria Pinto” Christanty tidaklah putus. Dua fase sebelumnya menjadi landasan kiprah berikutnya. Ibarat sebuah baterai, perempuan berkaca mata ini sudah di-charge penuh. Energinya tinggal digunakan untuk mencapai misi-misinya. Ia berkomitmen di dunia tulis menulis dan bergabung dengan sebuah majalah bulanan yang menggarap soal media dan jurnalisme.

Kalangan sastra Indonesia dibuat terperangah olehnya, ketika dia menghasilkan puluhan cerita pendek dalam kurun waktu kurang lebih lima tahun. Pada 2004 dibukukan dalam antologi “Kuda Terbang Maria Pinto“, dan buku itu menyabet penghargaan bergengsi Khatulistiwa Literary Award.

Baca juga: Menulis dan Kesehatan Mental

Bersamaan dengan menulis cerita pendek itu ,Linda menulis puluhan feature. Tujuh belas di antaranya tahun 2009 dibukukan dengan tajuk Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan Tulisan tentang Politik, Islam, dan Gay oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Seluruh isi buku ini masih mencerminkan visi perjuangannya ketika menjadi aktifis. Dalam buku ini ia membuktikan keyakinannya bahwa, “jurnalisme tetap membuat saya dapat berpihak pada orang-orang biasa dan bersikap kritis pada kekuasaan.”

Orang-orang yang mengalami ketidak-adilan, dan orang-orang yang berjuang untuk peradaban, menjadi sosok yang ditulis dalam buku ini. Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul, Dede Oetomo, Bre Redana, Kebo (preman yang dibakar di Jakarta), juga orang-orang Tiro adalah di antara nama-nama yang menghiasi buku ini.

Untuk Wiji Thukul yang hingga kini tidak jelas keberadaannya, penulis novel Tongkat Sultan ini memberikan simpati dan empati yang besar. Ia mengagumi Thukul sebagai orang biasa yang memiliki keberanian, dan kegigihan melakukan penyadaran masyarakatnya lewat puisi dan kesenian, untuk menggemakan “Hanya ada satu kata, lawan!” pada kekuasaan yang angkuh.

Flashback bagian Wiji Thukul dan Orang Hilang ini memberikan kesaksian langsung penculikan aktivis 1998 dengan mengutip buku hariannya. “Pukul 5.34 WIB, Selasa 23 Juni 1998 Marcel (Bimo Petrus Anugerah –pen) tidak kembali juga. Dia seperti serpihan dari pesawat luar angkasa yang meledak di ruang hampa, lepas dari gravitasi bumi. Hilang. Begitu pula Sadeli (Herman Hendrawan –pen). (Hal. 58). Mereka lenyap bersama Wiji Thukul.

Bagian tulisan tentang Wiji Thukul dan kawan-kawannya itu, seperti mengamini perlawanan terhadap penindasan meskipun harus dibayar dengan pelenyapan nyawa dan raga.

Lain lagi dengan featurenya tentang Aceh. Ketika pertama kali datang ke Serambi Mekah, ia menangkap jeritan para korban perang saudara dan tsunami itu lewat seorang tokoh, bernama Agam Patra, seorang warga negara biasa.

Linda sudah terbiasa menghadapi tekanan dan penderitaan, tetapi Aceh sungguh luar biasa. Budaya Aceh menjadi porak-poranda oleh dua bencana itu –perang saudara dan tsunami. Di Aceh itu pula buku bergambar sampul Upacara Gajah di Istana Raja Aceh ini menangkap spirit perjuangan orang-orang Tiro. Tergambarkan betapa pengaruh luar biasa pada masyarakatnya stigma Daerah Operasi Militer (DOM) terhadap Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Hasan Tiro sebagai komandan. Dan menjadi penawar dahaga kering kerongkong ketika Sang Tengku dapat datang kembali ke kampung halaman. Samar-samar buku ini mengatakan, politik itu seni tetapi luka yang diakibatkan tak mudah untuk dihapuskannya.

Baca juga: Senyum Bidadari untuk Tenaga Sapi

Kumpulan tulisan ini terasa enak dibaca. Gaya jurnalisme sastranya yang kental tidak memberikan jarak pada pembaca dengan obyeknya. Sebuah gaya penulisan subyektif yang penuh dengan warna “memprovokasi” rasa simpati dan empati kepada tokoh-tokoh yang digambarkan dengan sudut pandang humanis. Karenanya membacanya seperti sedang menghisap candu. Memabukkan sekaligus membuat ketagihan.

Buku ini makin menarik karena di dalamnya mengolah elemen-elemen jurnalisme secara serius. Penggambaran latar begitu detail dan akurat. Di sebuah ruangan, buku ini bisa melukiskan detail-detail seperti, piring keramik Dinasti Ming abad ke-18, atau mengenai latar sejarah kelahiran Hasan Tiro: “The Prince of Freedom Tiro mencantumkan tahun 1930. Di paspor Swedia-nya tahun 1925 dalam buku Demokrasi untuk Indonesia disebut 1923, ada juga yang mengatakan 1928″. Sebuah gambaran tulisan yang disusun dengan pengetahuan yang luas.

Akhirnya, buku ini patut dimiliki oleh aktivis, penulis sastra, jurnalis, dan kalangan yang tertarik pada sendi-sendi kemanusiaan.

Malang, 2016

(Editor: A. Elwiq Pr.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *