Menulis Resensi

Jadi, kamu mau menulis resensi? Gampang! Tapi resensi apa dulu? Objek resensi macam-macam; ada buku, film, pertunjukan teater, pertunjukan musik, masih ada beberapa lagi.

Baca juga: Bangku Kosong

Meskipun begitu, dasar resensi itu sama saja, yang membedakan hanya objeknya. Resensi itu tidak sama dengan iklan untuk promosi. Tetapi akan menjadi “iklan” kalau objek yang diresensi itu memang menarik untuk dibaca atau ditonton. Meresensi itu kegiatan menilai, misalnya meresensi buku, penulis resensi berupaya menunjukkan penilaiannya pada buku yang sedang diresensi.

Kamu pasti tahu, istilah resensi itu banyak padanannya. Bahasa Inggris mengatakan review, di Belanda recensie, dari bahasa induk Latin revidere (re artinya kembali, videre artinya melihat). Sedangkan di Indonesia sering kita kenal dengan istilah menimbang, meninjau, membicarakan, bahkan juga dikenal dengan istilah bedah (bedah buku, misalnya). Inti dari istilah itu semua adalah penulis resensi memberi pertimbangan, meninjau, atau membedah baik-buruknya.

Bukankah semua buku baru yang dibeli di toko buku itu baik? Ya. Itu namanya bukan baik, tapi bagus –karena baru dibeli. Lantas? Pertimbangan baik buruk buku (itu kalau yang diresensi buku, ya), menurut buku Dasar-Dasar Meresensi Buku (1997) ada dua ciri. Pertama isi buku secara struktural. Kedua kedudukan buku itu dalam bidangnya pada kedudukan yang sebenarnya.

Baca juga: Di Warung Kopi

Jadi, peresensi buku selayaknya membaca dengan cermat keseluruhan isi buku. Bagaimana bisa menimbang isi dari buku kalau tidak membacanya? Tema buku, struktur penulisan, kalimat-kalimat penting yang menjadi inti sari buku, orisinalitas pemikiran, dan sebagainya. Kemudian, peresensi bisa menilai konteks buku itu dalam bidangnya. Misalnya, sebuah novel bisa dinilai temanya penting dibaca kaitanya dengan kondisi sosial, budaya, filsafat, agama, dan sebagainya. Atau cara pengungkapannya mengalir, berlompatan (mozaik), flashback. Atau sebaliknya, temanya umum, gaya pengungkapannya rumit, cenderung gelap. Itu semua kesan “subjektif” peresensi.

Peresensi juga bisa menilai fisik buku, ejaan, atau terjemahan (untuk buku terjemaan). Misalnya, sampulnya berisi ilustrasi yang membawa pembacanya berimajinasi tentang alam gaib. Misalnya, lo itu. Hurufnya terlalu kecil, editannya banyak tipo, tidak bisa membedakan kata depan dan awalan. Banyak lagi yang masih bisa dinilai, untuk dituangkan secukupnya dalam resensi.

Rumit ya? Iya, kalau sekedar dibayangkan. Coba mulai! Ambil buku yang relatif baru. Baca judulnya, baca daftar isinya, baca sekilas pengantarnya, atau kalimat endors di halaman belakang buku. Oh, kira-kira judul dan isinya menarik. Punya cukup pengetahuan berkaitan dengan isi buku. Niat ingsun meresensi? Baca bukunya; catat pikiran penting dalam isi buku, catat kalimat penting (untuk kutipan), bikin resume secukupnya dengan gaya penulisan anda sendiri. Buat catatan penilaian tentang buku itu berdasarkan pengetahuan anda.

Kalau keadaannya seperti ini: buku ini sangat menarik untuk diresensi, tapi saya tidak punya pengetahuan tentang tema buku ini. Dan saya harus meresensinya! Maka, cari referensi dari koleksi buku anda, atau tanya google tentang tema tersebut. Terlalu lama, saya akan meresensi minta bantuan AI (artificial intelligence, akal imitasi) saja. Beres! Ya, sudah. Dan, jangan teruskan baca artikel ini!

Baca juga: Kisah WR. Soepratman, Jurnalis dan Musisi Jazz Penggubah Lagu Indonesia Raya

Yang ingin kreatif menulis (tidak memakai AI), selanjutnya buat kerangka (out line) sesuaikan dengan catatan yang sudah dibuat. Kerangka sudah jadi, masukkan catatan anda yang berserakan itu ke bagian-bagian kerangka sebagai pokok pikiran. Dan kembangkan menjadi paragraf-pagraf menarik, sesuai gaya penulisan anda.

Struktur kerangka resensi juga tidak jauh berbeda dengan struktur menulis artikel atau cerita pendek. Ada judul, pembuka, isi (batang tubuh), dan penutup. Membuat judul, bayangkan akan mewakili isi resensi. Bisa disusun lebih dulu, atau kalau draf resensi sudah jadi. Mana enaknya saja! Pembuka resensi, biasanya pada paragraf pertama. Anda bisa mulai dari mana saja; penulis bukunya, cuplikan isi buku, fisik buku, atau kedudukan buku dalam bidangnya sesuai pengetahuan anda.

Isi atau batang tubuh resensi, berisi tentang resume buku, cuplikan isi buku, dan penilaian terhadap isi buku. Nah, sebalum paragraf penutup, sajikan penilaian terhadap isi, fisik, bahasa yang menurut anda baik atau kurang baik. Kemudian ditutup dengan konklusi, pernyataan kesimpulan dan saran untuk pembaca, penulis, atau siapapun yang dianggap penting untuk membaca buku itu. Jadi!

Jangan lupa, kalau drafnya sudah tersusun, tulis juga Kartu Tanda Buku, berisi: judul buku, penulis, penerbit, tahun terbit, tebal, dan ISBN.

Melelahkan! Eit! Tidak ada perjuangan yang tidak ditebus dengan kucuran keringat, bahkan air mata dan darah. Tidak ada kreatifitas yang tercipta tanpa ketekunan. Dan apabila anda meresensi ada beberapa manfaat yang bisa diraih. Pertama manfaat psikologis. Meresensi tergolong penulisan kreatif. Apabila dilakukan secara ajeg dapat menyehatkan mental, seperti disampaikan L. Nandini dalam artikel Menulis dan Kesehatan Mental. Menulis menjadi bagian aktualisasi diri, apa lagi dipublikasikan di media cetak maupun elektronik.

Kedua keterbacaan resensi di media massa membuka peluang penulis lebih dikenal luas. Terbuka relasi, terutama dalam bidang tulis-menulis; sesama penulis, penerbit buku, pembaca umum yang mencari rujukan untuk memperoleh referensi yang tepat. Ketiga membuka peluang tambahan pendapatan ekonomi. Resensi yang diterbitkan media professional akan mendapat imbalan. Juga dari penerbit buku, ada penerbit yang memberikan honor dan buku terbitan terbaru sebagai ucapan terimakasih atas resensi buku yang diterbitkan.

Baca juga: Amsal Burung Biru Laut Ekor Hitam

Keempat dengan meresensi, peresensi dapat dipastikan membaca buku dan mencari informasi pengetahuan. Meresensi akan meningkatkan pengetahuan bagi peresensi. Pengetahuan bertambah akan merangsang gagasan baru untuk dituangkan dalam karya kreatif.

Menulis resensi? Gampangkan? Ayo coba, jangan berhenti di angan-angan belaka.

5 komentar untuk “Menulis Resensi”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *