Citra Kali di Jakarta

Judul              : Terang Bulan Terang di Kali
Penulis           : SM Ardan
Gambar Jilid : Sriwidodo
Penerbit         : Pustaka Jaya Jakarta
Cetakan         : Pertama, 1957
Tebal              : 84 halaman

SM Ardan, dengan nama lahir Sahmardan adalah bekas murid Taman Madya, setingkat SMA di Perguruan Taman Siswa, Jakarta. Se-lichting dengan Soekanto SA, Sobron Aidit, Misbach Jusa Biran, Sjumandjaja, Achmad MS, juga Ajip Rosidi yang pindah ke Tamansiswa sebab kedekatan para pamong (guru) dengan siswa, dan kerap mementaskan pertunjukan kesenian. Pria kelahiran Medan pada 2 Februari 1932 ini merasa dirinya seorang Betawi, tepatnya orang Kwitang. Setidaknya terbaca dalam cerita-cerita sastranya. Tetapi, bapaknya memang asal Betawi sedang ibunya asal desa Cigombong, Bogor.

Baca juga: Sesaat Pergi

Buku Sembilan sketsa cerita berjudul “Terang Bulan Terang Di Kali” ini bercerita tentang Jakarta era 1950-an. Manusia Jakarta diceritakan dengan latar gang-gang, becek, tanpa lampu, di sepanjang bantaran kali. Kali atau sungai adalah urat nadi kehidupan karena peradaban kala itu bergerak di seputar kali.

Pengantar yang ditulis Ardan Januari 1955 dengan judul “Awal Bermula” menerakan bahwa judul buku dikutip dari baris pertama syair lagu yang tahun-tahun itu banyak diperdengarkan. Judulnya “Terang Bulan” adaptasi dari lagu Prancis pada abad ke-18, dilantunkan Rudy van Dalm pada 1940-an. Ardan menyadari isi buku tak mencerminkan indah lagu. Bukunya kelihatan menipu namun sesungguhnya hendak menunjukkan hidup senyatanya ironi. Hidup dalam kewajaran yang ia ambil dari nafas di sekitar kali menciptakan keindahan, terpulang pada cara pandang, sebagaimana menyaksikan keindahan rembulan. Bahwa bila manusia memandang hidup ini indah, segalanya niscaya indah.

Dibuka dengan cerita “Pulang Pesta”. Pesta? Tak ada pesta dalam cerita. Digambarkan bulan sedang terang namun tidak seterang nasib Jiman si penarik becak. Ia melintasi anak-anak sedang dolanan di luar rumah ketika bulan purnama, tanpa membawa hasil. Hidup tanpa anak, istrinya dagang ubi rebus, singkong goreng, dan ketimus. Dan di atas meja, di rumahnya, tak tersedia apa-apa.

Ketika kawannya, Siun, datang disuguhi cerita bahwa ia menarik becak ke Menteng, ke Metropol muat tuan Belanda dan pacarnya. Masing-masing mengongkosi lima perak. Terus ke Senen. Semua itu diakhiri dengan Jiman minta rokok kepada Siun dan Siun tak punya sebatang pun. Jiman mengaku, ceritanya itu hanya bohong belaka, dan membuat Siun tergugu. Demikianlah pesta kecil berupa cerita rejeki nomplok diutarakan.

Baca juga: Lolongan di Bulan Agustus

Karena Istri Jiman pulang dari dagang, Siun pamitan, pergi. Icem menyodorkan gorengan yang disisihkan untuk suaminya, sembari mencari tahu bagaimana rejeki Jiman hari ini. Tampaknya tak ada hasil. Icem kemudian menyatakan Jiman tak usah memberikan uang padanya, gorengannya laku semua. Jiman menyambut girang. Lepas magrib, Jiman berangkat mencari muatan lagi diantar tatapan Icem sampai hilang di lorong. Jiman tak tahu ketika istrinya memperhatikannya mampir warung. Ia membeli dua batang rokok, satu batang diberikan kepada Siun.

Cerita berjudul “Rekaman”, ditulis di Kwintang pada 17 Agustus 1945, mengisahkan; “Pagi itu aku terbangun sekira jam delapan. Tak lama kemudian radio tetangga menyiarkan, bahwa sebentar lagi pemancar akan dihubungkan dengan istana negara … laporan pandangan mata perayaan hari proklamasi di istana negara … Ketika Presiden masih berpidato, di kali tetap ramai seperti hari-hari biasa. Tak kenal hari libur. Bahkan hari keramat: proklamasi dan Lebaran. Seorang perempuan yang sedang menceboki anaknya bilang, bahwa ada anak kecil mati …” (halaman 51)

Buku bersampul depan kuning dengan lukisan ranting-ranting daun ini dilengkapi daftar kata-kata Jakarta. Karena dalam cerita, kalimat langsung diutarakan dalam dialek Betawi yang kental dan hangat. Buku ini menjadi buku laris hingga tak berapa lama dicetak ulang.

Delapan cerita lain dalam buku “Terang Bulan Terang di Kali” berjudul “Bang Senan Mau ke Mekah”, “Sanip Membuat Lelucon”, “Belum Selesai”, “Rekaman”, “Pawai di Bawah Bulan”, “Bulan Menyaksikan”, “Bulan Sabit di Langit Barat”, serta “Malam Terang Langit Cerah”.

SM Ardan menyeriusi dunia kepenulisan sejak 1956 dengan bekerja di surat kabar dan majalah. Selain menulis cerpen, juga menulis artikel, resensi, dan sajak. Adapun cerpen-cerpennya dimuat di “Mimbar Indonesia”, “Zenith”, “Siasat”, dan “Kisah”. Karya lain SM Ardan, sandiwara tiga babak “Nyai Dasima” dan kumpulan puisi “Ketemu di Jalan”, selain skenario film yang ditulis di era 1960-an.

Baca juga: Kisah Sang Saka Merah Putih, dari Prasejarah, Majapahit hingga Jahitan Fatmawati

Sketsa cerita dalam buku ini, tentunya sulit dibayangkan dalam situasi Jakarta dan kota-kota lain hari ini. Kecuali di pinggiran pusat keramaian atau di ceruk-ceruk kali tak nampak dari jalan arteri. Apakah tema cerita semacam ini masih ditulis oleh penulis hari ini? Saya kira, masih ditulis dalam berbagai cerita meskipun etalase makin gemerlapan dan kenyataan orang di pinggir kali benar-benar terpinggir. Ya, masih akan ditulis di antara kali-kali yang makin dangkal dan mengering.

Turen, 12 Agustus 2024

(Editor: Iman Suwongso)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *