Kisah Sang Saka Merah Putih, dari Prasejarah, Majapahit hingga Jahitan Fatmawati

Bendera Sang Saka Merah Putih, Karya Fatmawati. Foto/Dok. kebudayaan.kemdikbud.go.id

Sang Saka Merah Putih, berkibar indah di langit biru Nusantara. Kibarannya pada 17 Agustus 79 tahun silam, menjadi tonggak sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Sang Saka Merah Putih hasil jahitan tangan Fatmawati tersebut, kini tersimpan di Istana Merdeka Jakarta.

Baca juga: Kisah Pasukan Estri Mangkunegaran, Prajurit Wanita Penebar Maut yang Bikin Belanda Kalang Kabut

Keberadaan bendera tersebut, sangatlah penting bagi bangsa Indonesia. Bahkan, keberadaan bendera merah putih ini, juga ditetapkan dalam Undang-undang (UU) No. 24/2009 tentang “Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan”.

Pengaturan bendera merah putih, sebagai bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tersebut, ditempatkan pada Pasal 1 UU No. 24/2009. Pada ayat 1, disebutkan “Bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Bendera Negara adalah Sang Merah Putih”.

Pengaturan tentang bendera merah putih, juga dituangkan dalam Pasal 5 UU No. 24/2009. Yakni, “(1) Bendera Negara yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, disebut Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih. (2) Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih disimpan dan dipelihara di Monumen Nasional Jakarta”.

Bendera merah putih yang juga memiliki nama Sang Merah Putih tersebut, pertama kali dikibarkan oleh para pemuda Indonesia, saat digelar kongres pemuda dari seluruh wilayah Nusantara, pada 28 Oktober 1928.

Dalam naskah akademik Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, disebutkan, pengibaran bendera merah putih dalam kongres pemuda tersebut, menjadi penanda bagi satu bangsa yang dicita-citakan oleh para pemuda di seluruh penjuru Nusantara.

Selain pengibaran Sang Merah Putih, dengan iringan permainan biola WR Supratman yang memainkan lagu ciptaannya, Indonesia Raya. Dalam kongres pemuda tersebut, juga dibacakan sikap dan kebulatan tekad para pemuda dari seluruh Nusantara, yang dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Kebulatan tekad para pemuda untuk menjadi satu bangsa Indonesia itu, akhirnya mampu terwujud 17 tahun kemudian. Tepatnya, saat Soekarno, dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pada 17 Agustus 1945.

Sang Merah Putih, ternyata sudah ada sejak ribuan tahun sebelum lahirnya Indonesia. Hal ini diungkap Mr. Muhammad Yamin dalam bukunya yang berjudul “Sebutir Pasir di Gurun Sahara 6000 Tahun Sang Merah Putih”. Buku tersebut, diterbitkan untuk memperingati 30 tahun Sumpah Pemuda.

Dalam bukunya tersebut, Yamin menguraikan bendera Sang Merah Putih sebenarnya telah ada sejak zaman prasejarah. Dia bahkan membuat tiga babak waktu, untuk membuktikan keberadaan Sang Merah Putih yang sudah ada jauh sebelum terbentuknya Indonesia.

Tiga babak waktu atau Trikala sejarah Indonesia, yang dibuat Yamin untuk menyelidiki keberadaan Sang Merah Putih itu, dimulai dari masa prasejarah (praehistoria), protohistoria; dan historia.

Baca juga: Amsal Pohon Rambutan

Untuk menyelidiki keberadaan Sang Merah Putih pada masa prasejarah, disebutkan Yamin memakai sumber tidak tertulis. Sedangkan penyelidikan pada masa protohistoria atau madiakala yang meliputi awal masehi hingga abad ke tujuh, digunakan sumber tertulis. Sementara masa historia, merupakan penyelidikan setelah abad ke tujuh.

Dikutip dari naskah akademik RUU tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, dari tiga babak waktu itu Yamin berhasil mengungkap makna merah putih melalui berbagai pendekatan. Salah satunya, pendekatan menggunakan etnologi bahasa-bahasa Austronesia.

Masa praehistoria dibagi dalam dua zaman. Pertama yakni aditiatjandera, di mana merah putih dihormati sebagai matahari dan bulan. Sementara yang kedua, adalah zaman di mana merah putih dihormati sebagai zat hidup, darah dan getah tumbuh-tumbuhan.

Selain itu, Yamin juga menggunakan mitos dalam penelusuran Sang Merah Putih, karena dinilai memiliki sejarah dan kehidupan rohani suatu bangsa. Salah satu mitos yang menjadi bahan penyelidikan, adalah cerita Panji.

Panji sendiri, juga dimaknai sebagai bendera. Cerita Panji tak hanya berkembang di Pulau Jawa, tetapi juga menyebar hingga ke wilayah Kamboja, dan Siam. Cerita yang mengisahkan percintaan Raden Inu Kertapati atau Panji, dengan Putri Candra Kirana tersebut, dinilai oleh Yamin sebagai pengambaran perpaduan dwi warna merah dan putih.

Raden Inu Kertapati, dalam mitosnya dinilai sebagai perwujudan cahaya matahari yang berwarna merah. Sedangkan Putri Candra Kirana, merupana perwujudan cahaya bulan yang berwarna putih.

Selain Mitos, Yamin juga menggunakan bahan-bahan sejarah untuk bahan penyelidikan tentang Sang Merah Putih. Dia menyelidiki tiga negara di Nusantara, yang wilayahnya hampir sama dengan Indonesia saat ini. Yakni, Sriwijaya-Syailendra; Singhasari-Majapahit; dan Republik Indonesia.

Penghormatan terhadap dwi warna itu, sudah terjadi di masa Sriwijaya-Syailendra. Salah satunya melalui relief di Candi Borobudur, di mana digambarkan ada tiga hulubalang membawa umbul-umbul berwarna gelap dan terang, yang diduga sebagai penggambaran warna merah dan putih.

Keberadaan warna merah dan putih juga muncul di Candi Mendut. Di mana terdapat ukiran bunga tunjung mabang sebagai lambang warna merah, dan bunga tunjung maputeh sebagai lambang warna putih.

Yamin dalam bukunya, juga menyebutkan adanya bukti-bukti sejarah di masa Sriwijaya dan Majapahit, yang dicatat oleh juru tulis dalam pelayaran Marcopolo pada abad 16, Antonio Pigafetta. Ada 426 kata di Nusantara, yang dimasukkan Antonio Pigafetta dalam kamusnya, salah satunya cain mera dan cain pute, yang diterjemahkan sebagai panno rosso et al panno bianco.

Baca juga: Amsal Burung Pelatuk

Pada abad 16, Raja Majapahit juga tercatat dalam sejarah menyerahkan cincin yang memiliki mata merah dan putih untuk Ratu Jepara, Kalinyamat. Sepanjang kekuasaanya di wilayah Nusantara, Majapahit juga selalu menggunakan warna merah dan putih untuk panji-panji kerajaan.

Penggunaan dwi warna merah putih juga terus berlanjut di masa Kerajaan Mataram Islam. Panji-panji gula kelapa yang memiliki simbol warna merah putih digunakan Kiai Ageng Selo, dan terus dijaga oleh Sultan Agung, serta diwariskan kepada para raja penerusnya.

Warna merah dan putih, juga digunakan Pangeran Diponegoro sebagai umbul-umbul yang dikibarkan di wilayah Gunung Merapi, saat pecah perang Jawa melawan kolonial Belanda, sekitar tahun 1825-1830. Bahkan, muncul mitos warna merah putih tersebut, dipercaya da[at melindungi seluruh rakyat dan pasukan Pangeran Diponegoro.

Dalam tulisannya, Yamin menyebut pada abad 15 Raja Bone, Karrampeluwa juga mengibarkan umbul-umbul berwarna merah putih yang disebut ljallae ri dan ljallae ri abeo.

Pada tahun 1920, para mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di Belanda, juga mengibarkan bendera merah putih sebagai wujud dari cita-cita mereka untuk Indonesia merdeka. Para mahasiswa ini tergabung dalam Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging).

Bendera merah putih dan kepala banteng, dipilih Bung Karno saat mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI), pada tahun 1927. Saat berada di pengasingan, Bung Karno juga menggunakan sandi merah putih dan Indonesia Raya, untuk mengobarkan semangat penduduk Ende, NTT.

Penggunaan warna merah dan putih semakin kuat, saat rakyat Indonesia berjuang menghadapi penjajahan. Dwi warna dalam bendera Indonesia memiliki makna filosofis. Yakni, merah yang memiliki arti berani, dan putih yang dimaknai sebagai lambang kesucian.

Selain itu, warna merah juga dimaknai sebagai lambang tubuh manusia, dan putih merupakan lambang dari jiwa manusia. Merah dan putih dalam bendera Indonesia ini, tidak dapat dipisahkan karena saling melengkapi.

Dijahit dengan Cucuran Air Mata Fatmawati

Bendera merah putih yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada Jumat Legi, 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, merupakan jahitan tangan Fatmawati, istri Bung Karno.

Baca juga: Pasar Kalabendu

Fatmawati menjahit bendera berukuran 2 x 3 meter tersebut, setelah pulang dari pengasingannya di Bengkulu. Dalam naskah akademik RUU tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, disebutkan, pembuatan bendera merah putih berukuran besar ini berasal dari ide seorang perwira Jepang, Shimizu.

Shimizu yang menjabat sebagai Kepala Barisan Sendenbu atau propaganda di Gunseikanbu, yakni pemerintahan militer Jepang di Jawa dan Sumatera, menyampaikan ide pembuatan bendera merah putih berukuran besar tersebut langsung kepada Bung Karno dan Fatmawati.

Langkah yang dilakukan Shimizu ini, tentunya juga bagian dari kepentingannya untuk menjalin hubungan lebih dekat, dan mengambil hati Bung Karno, serta rakyat Indonesia. Saat itu, kondisi pasukan Jepang juga terus terdesak oleh pasukan Amerika di wilayah Pasifik.

Dalam naskah akademik tersebut juga dituliskan, propaganda politik bahwa Jepang adalah “saudara tua” bagi Indonesia menjadi sesuatu yang sangat populer saat itu,
termasuk propaganda berupa janji kemerdekaan bagi Indonesia. Hal ini dilakukan Jepang, untuk memperkuat posisinya di mata rakyat Indonesia, demi kepentingan perang di Asia Timur.

Bahkan, Shimizu juga menyediakan rumah bagi Bung Karno dan keluarganya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, serta memfasilitasi pembuatan bendera merah putih. Dia memerintahkan seorang perwira Gunseikanbu, Chaerul Basri untuk memberikan dua blok kain merah dan putih dari sebuah gudang di Jalan Pintu Air Jakarta.

Fatmawati berperan besar dalam pembuatan bendera pusaka tersebut. Saat proses pembuatan bendera, dia tengah dalam kondisi hamil anak pertama, Guntur Soekarnoputera. Untuk menggerakkan mesin jahit, dia hanya menggunakan tangannya karena dokter melarang menggunakan kaki. Dikhawatirkan, penggunaan kaki untuk menjahit dapat mengganggu kandungan Fatmawati.

Butuh dua hari bagi Fatmawati untuk menuntaskan proses pembuatan bendera merah putih. Bendera merah putih tersebut, berhasil diselesaikan pada akhir tahun 1944. Air mata Fatmawati tertumpah di kain bendera yang dijahitnya, karena dia harus berjuang dengan susah payah dalam kondisi fisik yang terbatas.

Dibawa Hijrah ke Yogyakarta dan Sempat Dibelah Dua

Sejak proklamasi dikumandangkan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta, bendera merah putih jahitan tangan Fatmawati terus dikibarkan di depan rumah Jalan Pegangsaan Timur No. 56.

Baca juga: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang

Saat Presiden Soekarno, dan Wakil Presiden Mohammad Hatta harus hijrah ke Yogyakarta, pada 4 Januari 1946, bendera merah putih juga turut dibawa dan dikibarkan di halaman Gedung Agung Yogyakarta.

Pemerintahan Indonesia, yang baru seumur jagung terpaksa dipindahkan ke Yogyakarta, karena agresi militer Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta memimpin jalannya pemerintahan dari Gedung Agung, yang merupakan bekas puri kediaman Residen Hindia Belanda. Gedung tersebut, dibangun pada tahun 1755.

Keberadaan pemerintahan Indonesia di Yogyakarta, juga tidak dapat berlangsung lama. Pasukan Belanda menyerbu Yogyakarta, dan menawan para pemimpin bangsa, Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan ke Brastagi, Sumatera Utara, kemudian dipindah ke Bangka. Saat berada di Bangka, Bung Karno ditawan di Muntok, sedangkan Bung Hatta ditawan di Bukit Menumbing.

Bung Karno sempat melakukan penyelamatan terhadap bendera merah putih, sebelum ditawan oleh pasukan Belanda. Bendera merah putih tersebut, diserahkan Bung Karno kepada seorang pemuda pejuang bernama Husein Mutahar.

Mutahar yang merupakan ajudan Bung Karno tersebut, pernah terlibat dalam pertempuran lima hari di Semarang. Dilansir dari situs kebudayaan.kemdikbud.go.id, upaya penyelamatan bendera merah putih itu, dilakukan Bung Karno, pada 19 Desember 1948.

Dalam upaya penyelamatan bendera merah putih, Mutahar terpaksa melepaskan benang jahitan bendera tersebut, dan memisahkannya menjadi dua bagian. Warna merah dan putih yang telah terpisah, disimpan dalam dua tas berbeda lalu dibawa mengungsi.

Meski Mutahar sempat ditawan pasukan Belanda, namun bendera merah putih tersebut berhasil diselamatkan. Sekitar pertengahan bulan Juni 1949, menurut situs kebudayaan.kemdikbud.go.id, Bung Karno yang berada di pengasingan, meminta kembali bendera pusaka tersebut.

Mendapat perintah untuk mengembalikan bendera merah putih, Mutahar kemudian menjahit kembali bendera yang telah terpisah itu. Proses penyatuan kembali dwi warna ini, dilakukan Mutahar dengan sangat teliti. Dia menjahitnya mengikuti lubang bekas jahitan Fatmawati.

Untuk menyamarkannya, bendera tersebut dibungkus kertas koran. Setelah itu, bendera pusaka diserahkan kepada Soejono, dan dikembalikan kepada Bung Karno. Pada 6 Juli 1949 Bung Karno bersama para pemimpin bangsa yang ditawan pasukan Belanda, kembali ke Yogyakarta. Bendera merah putih akhirnya dikibarkan kembali pada 17 Agustus 1949 di depan Gedung Agung.

Baca juga: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang

Usai penandatanganan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, dalam perundingan meja bundar di Den Haag. Bendera merah putih tersebut, kembali diterbangkan dari Yogyakarta, ke Jakarta, menggunakan pesawat Garuda Indonesia Airways, pada 28 Desember 1949.

Bendera pusaka ini, terakhir kali dikibarkan di Istana Merdeka, pada 17 Agustus 1968. Setelah itu bendera pusaka disimpan dan digantikan dengan duplikatnya, karena kondisinya sudah sangat rapuh.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *