Irina, Nur, dan Maya Kawan Kita

Judul buku  : Batu Sandung
Penulis        : Ratna Indraswari Ibrahim
Editor           : Retno Suffatni
Penerbit      : LkiS Yogyakarta
Cetakan      : I, Februari 2007
Tebal           : 134 halaman

Ratna Indraswari Ibrahim, lahir di Malang, pada 24 April 1949. Dia sempat menikmati bangku kuliah di Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan (FKK), Universitas Brawijaya Malang, pada 1967.

Baca juga: Pagi Tak Selalu Tentang Kopi

Banyak karya sastra yang lahir dari tangan dinginnya. Salah satunya adalah kumpulan tiga novelet berjudul Batu Sandung, Garis Ibu, dan Hari-hari yang Tercecer. Novelet adalah cerita yang tidak sependek cerpen dan tidak sepanjang novel, bahkan saga. Penempatan masing-masing pun saya yakin menjadi pertimbangan yang tepat dan matang, sesuai perjalanan sang penulis ketika menyusun masing-masing kisah.

Batu Sandung di akhir cerita tercatat, selesai ditulis pada Maret 1983. Ketika Ratna berusia 34 tahun. Dikisahkan, seorang gadis tepat berusia 23 tahun, hari itu bersama seorang wanita bernama Yem yang dijelaskan si gadis begini: “Saya cuma tertawa. Perempuan itu ikut keluarga kami hampir dua puluh tahun. Barangkali ia pun merasa memiliki diri saya, dan menganggap perlu membahagiakan saya dengan cara bagaimana pun. Berlebihan memang, namun saya tak tega menolak kebaikan perempuan sederhana itu.” (halaman 2)

Satu demi satu tokoh diperkenalkan oleh sang pencerita, saya, dengan kalimat pendek dan jelas: Masih pagi. Saya terbangun. Merasakan keanehan di kamar ini. Ada tiga buket mawar dengan warna merah menyala. Lama saya berpikir tentang keganjilan ini.

Papa, Mama, Oliver, dan Adis diperkenalkan tokoh saya satu demi satu. Adis adalah salah seorang kerabatnya yang masuk di kehidupan si gadis yang menjelaskan dirinya: dengan kaki yang lumpuh, saya jadi terpencil. Dan situasi psikis si gadis tergambar rapi dalam sebuah kalimat” “Kegugupan itu tidak berhenti mencuat sampai saat ini, sekalipun saya tahu kehidupan masa depan saya harus lebih banyak saya tunjang dengan logika.”

Sejauh saya membaca kembali karya Ratna dalam jarak waktu dan ruang, bahwa kegugupan tak hanya milik orang-orang dengan cacat badani, saya kira ini menjadi problem universal ketika secara jiwani ada amputasi oleh sang aku entah karena apa, lalu menjadikan sang aku sebagai orang yang lumpuh secara logika. Mudah terluka dan bertopeng. Yang kini lebih nyata dan terbuka ketika makna topeng ini marak diberitakan para selebritas berbondong-bondong operasi hidung, kelopak mata, dagu dan seterusnya untuk mengejar kesempurnaan fisik dan alpa menyadari bahwa kekurangan diri adalah manusiawi.

Dalam pengantar redaksi, disitir pernyataan penulis yang mulai menurun kemampuan berdiri sejak usia 9 tahun seperti ini: “Menulis adalah proses belajar yang tidak berkesudahan di tengah berbagai informasi yang berdengung di mana-mana. Di tengah budaya autis yang membuat kita asyik dengan diri sendiri.”

Baca juga: Kisah Pasukan Estri Mangkunegaran, Prajurit Wanita Penebar Maut yang Bikin Belanda Kalang Kabut

Dalam Batu Sandung, Irina, tokoh saya yang kemudian disebut namanya hampir sudah di seperempat kisah. Di sepanjang cerita ia melawan “keautisannya”. Pada halaman 12 diuraikan semacam ini: “Bila saya telusuri, hidup saya sebetulnya seluruhnya adalah tragedi. Mungkin kedengaran aneh bahwa kecacatan terkadang bisa jadi sahabat yang pas buat saya. Dengan asyiknya saya bisa bermain dengan waktu, tanpa kontak dengan orang lain,”.

Begitulah, kita bakal menemukan kalimat antara lain: Benci sekali saya mendengarnya; Saya tercengang; Tiba-tiba saya merasa letih; Saya merasa tegang; Saya kurang senang mendengarnya; Saya kaget. Tapi, adakah keberanian saya untuk mengurai lebih lanjut?

Hingga di ujung kisah, Irina menutup percakapan di dalam hatinya sebagai pertanyaan yang pembaca boleh simpulkan sendiri, “Bisakah saya mencintai pemuda yang sangat mengerti saya ini?”.

Batu Sandung memang novelet yang tidak melegakan, karena tidak ditutup dengan kisah pesta perkawinan, alih-alih diawali dengan cerita pada hari ulang tahun Irina. Tapi darinya justru kita diajak berbagi keluh-kesah tanpa merasa risih atau bodoh, iri, dan saing-saingan di antara perempuan. Ini tentang mengelola perasaan dan mengenali aneka perasaan yang menguasai kita (baca: perempuan) atau sebaiknya kita kuasai.

Bila sudah tarik napas, bisa diteruskan pada cerita kedua, Garis Ibu. Nur, seorang ibu dengan dua anak laki-laki remaja dan kehidupannya sampai rentang ketika dua anak bujangnya beranjak dewasa dan menentukan pasangan hidup mereka masing-masing.

“Waktu begitu cepat berlalu. Saya selalu ingat mereka berdua masih kecil. Betapa repot saya merawat keduanya. Pada waktu itu dengan berat hati saya melepaskan profesi saya sebagai guru di salah satu SD,”. (halaman 51)

Dengan benang merah yang jelas, Ratna bilang: “Profesi Ibu memang tidak kelihatan oleh siapa pun juga,”.

Sebagai perempuan melajang, Ratna jelas bukan asal bunyi. Ia menyerap dan mengendapkan situasi di sekitarnya dengan tandas dan tuntas. Bahkan otokritik sebagai seorang ibu karena diprotes pasangannya pun diurai dengan apik.

“Iskandar, yang baru datang berkata bahwa saya terlalu mencintai anak-anak daripada dirinya. Saya sebetulnya mengakui kebenaran ucapannya. Sejak Pras lahir, Iskandar sering mengucapkan kalimat itu. Entah mengapa, anak-anak rasanya selalu membuat saya begitu asyik sehingga saya melepaskan segala hal. Dulu ibu sering memperingatkan hal ini. Terus-terang saya selalu lupa dengan peringatan Ibu,”. (halaman 55)

Bibit friksi ini pun dibawa sampai jauh di kehidupan sebuah keluarga tumbuh, di mana sebuah ikatan dirangkaikan dan tak terasa menjadi tembok-tembok yang memisahkan ini kami dan itu soal anda atau kalian, sesungguhnya cinta akan menjadi api yang bila tak hati-hati tak lagi menghangati tapi niscaya membakar diri sendiri. Di sini, Ratna berlaku sangat hati-hati. Jauh dari kesan menggurui apalagi sok tahu.

“Perdebatan ini membuat saya pusing. Lantas secara diam-diam saya tinggalkan mereka, sambil mencoba mengerti bahwa anak-anak muda itu mempunyai dunia sendiri yang pasti sangat jaugh berbeda dengan dunia saya dan Iskandar. Dan, itu boleh jadi satu pekerjaan rumah yang sulit bagi setiap ibu,”. (halaman 76)

Adapun pada halaman berikutnya Nur mengakui tanpa pekerjaan rumah peristiwa-peristiwa kecil di masa lalunya bermunculan kembali. Di tengah kesibukan seluruh saudara laki-lakinya ia adalah gadis kecil yang suka duduk di jenjang rumah dengan perasaan sunyi. Perasaan itu ia bawa terus sampai saat ini dan ia tak ingin anak-anaknya merasakan kesunyian itu di rumah.

Dalam pada itu terkait kesunyian, Nur tak mengatakan apapun pada pasangannya. Tak sepatah katapun. “Saya tidak mengatakan hal ini pada Iskandar. Semakin tua saya semakin mengerti kalau saya dan Iskandar punya dasar berpijak yang tidak selamanya sama. Pengertian itu memang berjalan lambat, sebagaimana lazimnya setiap pengertian,”. (halaman 77)

Baca juga: Sarang (The Nest)

Hingga di ujung kisah, kesepiannya semakin nyata ketika anak sulungnya membawa perempuan bersamanya ke kota kami, dari Kalimantan.

“Saya betul-betul tercengang melihat keberanian gadis yang memakai kruk itu. Dia berhadapan dengan saya seperti seorang ratu tanpa kerikuhan apa pun [ …] Dia berbicara dengan tenang, seolah-olah persoalan ini bukanlah persoalannya,”. (halaman 82)

Nur adalah ibu yang kecewa sekaligus apa boleh buat. Pras, anak sulung dari benih cinta yang keras kepala dan kemudian hari mempertahankan cintanya dengan lebih keras lagi sebagai wujud keyakinannya bahwa cinta itu memerdekakan.

Bagaimana kisah berikutnya? Hari-hari Yang Tercecer, Ratna tulis dengan kristalisasi sikap hidup yang lebih lantang dan penuh perhitungan. Logika yang ia dengung-dengungkan menjadi akar cerita yang mencerahkan siapapun perempuan yang sempat membaca dan merenungi karyanya.

Berani bukan asal berani. Tapi juga cerdik sekaligus jujur menempuh kehidupannya sebagai perempuan. Lepas dari cinta yang manipulatif.

“Kalau Mama dan Papa tidak bisa rukun lagi, ya pisah saja,”.

Demikian cerita dibuka oleh tokoh bernama Sari, anak Maya berumur 17 tahun. Gadis bau kencur yang pemberani tapi dia sendiri yang kemudian frustrasi atas keberanian ibunya yang ia kenal takut-takut dan mudah cemas.

Kalimat itu tidak asing bagi saya yang berkeliaran di antara Ratna dan mbakyunya yang sepantaran ibu saya. Nien tinggal di Surabaya, acapkali datang bersama suaminya Raja.

Di antara kesibukan Ratna menulis, Nien tak segan berkeluh-kesah ihwal suaminya panjang-pendek. Ratna tidak selamanya sabar mendengarkan apalagi sedang situasi menulis. Ia pun dengan enteng berkata pada mbakyunya, “Cerai saja, Nien,”

Yang terkejut bukan hanya Nien, saya pun di dekat mereka tak pelak ikut terbelalak. Sikap apa-adanya ini semacam bara yang Ratna jaga dalam karya terus bernyala.

Pertanyaan demi pertanyaan bergulir dalam refleksi seorang Maya. “Sekarang saya empat puluh. Bono empat puluh enam. Apakah karena usia maka kami berubah segala-segalanya? Kembar saya, Marta, rasanya seperti tidak berubah bersama Steve-nya,”. (halaman 84)

Cerita berkembang dengan irama yang cekatan dan penuh dinamika. Sari semacam alter-ego Maya yang pemberani dan selalu bertentangan. Tak ragu-ragu menentang alih-alih menantang.

Baca juga: Bang

“Masalahnya kok Mama buat sebegitu gampang. Padahal Mama tahu benar norma masyarakat Malang. Saya tertekan dengan gosip tentang Mama dan Papa. Tahukah Mama, bukan Mama saja yang berani keluar dengan Steve, tapi juga Papa dengan Yanti!”. (halaman 108)

Perjalanan terjal dan mendaki gunung-gunung keluarga untuk berada di atas puncak-puncak kedamaian memang tak semudah menganalisanya dari kejauhan. Apalagi sekadar menghakimi, hal yang mudah dilakukan di jagat media sosial belakangan.

Di pertengahan kisah, Ratna merangkaikan kalimat kunci yang saya kira tak akan diucapkan oleh perempuan konservatif, Maya membatin, “Sesungguhnya, saya tidak mau berunding dengan Bono. Saya tidak mau menjadi bingung seumur hidup. Sekarang saatnya menjadi diri sendiri!”.

Dan itu harus Maya lunasi dengan kenestapaan yang dahsyat, “Dalam perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta ke New York, saya tidak bisa menghentikan tangisan ini. Terbayang-bayang bagaimana Sari melampaikan tangannya sebagai salam perpisahan. Hilman (adik Sari) bersama saya kelihatan tidak gembira. Perpisahan dengan Sari dan Bono tidak mudah bagi remaja yang elok hatinya ini,”.

Pendakian masih jauh dan diurai Ratna dengan tabah. Kehidupan pasca perceraian yang sulit sekaligus mendewasakan masing-masing. Ini mengingatkan saya pada film “Ratu-Ratu Queen” dengan latar cerita New York City, bagaimana orang-orang Indonesia berpenghidupan di Amerika. Toh ditutup kelegaan. Ratna berbaik hati menutup kisah Hari-hari yang Tercecer dengan komedi. Bahwa lepas dari mulut buaya, toh perempuan merasa aman dalam pelukan garangan. Mungkin kalau cerita ini jadi perbincangan teh sore kami, begitulah.

Turen, 2 Agustus 2024

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *