Menjaga Sumber Kehidupan

Air. Sudah tidak dapat disangkal lagi sebagai sumber kehidupan. Tubuh manusia 70% merupakan unsur air. Orang bisa cukup lama tahan tidak mati karena tidak makan daripada tidak minum.

Baca juga: Melawan Kekuasaan Despot

Dalam sejarah sosial, air bisa mempersatukan masyarakat, sebaliknya sangat mudah menyulut permusuhan. Pada tahun 2022 sekelompok orang di Kabupaten Malang, melakukan protes keras kepada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang, karena sumber air Sumber Pitu disedot habis. Mereka tidak kebagian air untuk pengairan sawah.

Banyak kisah tentang air. Beda orang beda cerita, beda daerah beda masalah. Beda pula kadar kecintaan mereka.

Kita telusuri tentang air dan perlakuannya itu di Desa Pronojiwo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Desa pada ketingggian 850 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini, berada di kaki Gunung Semeru bagian selatan. Terdapat dua sumber mata air besar di blok Ranu Darungan, dan blok Jurang Toleh. Pernah ada di perkampungan blok Gunung Surak, tetapi debit airnya menyusut dan mati.

Sebagian masyarakat di dua desa, yakni Desa Sidomulyo, dan Desa Pronojiwo, memanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk minum, memasak, mencuci, dan mandi. Pemanfaat air di Desa Sidomulyo, ada 150 keluarga, sedangkan di Desa Pronojiwo, lebih dari 1.000 keluarga, tersebar di Dusun Ranu, Dusun Darungan, blok Gunung Surak, dan blok Tulungagungan.

Sejarahnya, sumber di blok Ranu Darungan (nama ranunya Ranu Lingga Rekisi) sudah dimanfaatkan sejak tahun 1982. Pemerintah membantu masyarakat untuk melakukan pipanisasi. Pemanfaatan air tersebut berkembang melalui program Inpres (Intruksi Presiden) dan pengelolaan oleh PDAM. Program-program tersebut tidak belangsung lama, maka pipa-pipa saluran air dimanfaatkan masyarakat secara swadaya. Sekarang dikoordinir oleh tujuh kelompok pemanfaat air.

Sebagaimana masyarakat desa yang agraris, kehidupan mereka sangat ditentukan oleh interaksi dengan alam. Alam telah memberikan pengalaman dan pembelajaran terhadap segala sendi kehidupan mereka. Pada tahun 1998 sampai awal tahun 2000-an mereka terbawa situasi umum negeri ini, ikut serta melakukan pembalakan liar. Pohon-pohon besar di sekitar blok Ranu Darungan dibabat habis, dipergunakan sebagai “komoditas”. Hutan jadi gundul.

Mereka mendapat pembelajaran dari peristiwa ceroboh itu. Beberapa tahun sesudah pembalakan itu debit air menjadi surut. Bahkan sumber di blok perkampungan Gunung Surak sumbernya mampet. Mereka mulai merasakan resahnya kekurangan air. Mereka mengerti bahwa alam telah menghukum terhadap kesalahan besar itu.

Baca juga: Dahan

Kita tahu dalam teori sosial, dalam masyarakat komunal selalu muncul orang-orang yang menonjol, orang-orang yang punya inisiatif, orang-orang yang menjadi “provokator” bagi anggota masyarakat lainnya.

Samian, Mail, dan Tuyono (sekarang tinggal di Tempursari) adalah tiga orang di Desa Pronojiwo, yang berperan untuk memulai menghijaukan kembali hutan yang telah gundul itu. Selanjutnya, bergabung tokoh-tokoh lain seperti Siono, Slamet, Sahroji, Sampe, Boiman, dan Sulaiman.

Pada tahun 2003 mereka bersama masyarakat melakukan reboisasi masal secara swadaya. Mereka menanami bibit-bibit pohon hutan di kawasan hutan yang telah gundul itu. Pada tahun 2004 bibit pohon cemara gunung dan akasia disediakan oleh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Kepala Resort Pengelola Taman Nasional Ranu Darungan saat itu dipegang Hadi Wiyono.

Penanaman itu dilakukan secara bertahap, sampai hutan di Desa Pronojiwo itu menghijau Kembali. Bahkan, sampai sekarang penanaman pohon secara masal menjadi “tradisi” dan menjadi program kerja tahunan kelompok mitra TNBTS di Ranu Darungan. Penanamannya dilakukan antara bulan November sampai Januari, pada musim penghujan.

Ritual Sumber Air

Tradisi lain penyelamatan sumber mata air dan kelestarian hutan itu juga dilakukan dengan cara ritual. Sebagai rasa syukur karena aliran airnya lancar, hutannya lestari, masyarakatnya tenteram, dilakukan barikan (selamatan) sumber.

Baca juga: Semut-Semut Budaya

Ritual ini makin ajeg dilakukan setiap bulan Suro (bulan pada penanggalan Jawa) ketika Toni Artaka memegang jabatan di Resort PTN Ranu Darungan pada tahun 2016. Meskipun setiap kelompok pemanfaat air melakukan ritual sendiri-sendiri.

Pada tahun 2018 ritual selamatan sumber itu, dilakukan bersama-sama oleh seluruh masyarakat pengguna air. Koordinatornya Kelompok Tani Konservasi (KTK) Ranu Linggo Rekisi (mitra TNBTS). Kelompok ini sebagai panitia penyelenggaraan hajatan masal itu. Tugasnya menyiapkan lokasi hajatan dan mengunang berbagai pihak; masyarakat dan pejabat pemerintah. Diketahui, KTK Ranu Lingga Rekisi merupakan kelompok pemegang ijin pemanfaatan air dari kawasan konservasi.

Penentu tanggal dilaksanakan ritual selamatan sumber ini adalah “hitungan” tanggal Jawa yang dilakukan oleh sesepuh blok Ranu Darungan. Sesepuh yang menjadi rujukan itu adalah Raimun dari Dusun Ranu.

Tugas Raimun sebagai sesepuh, tidak hanya menentukan hari, tetapi juga melakukan suguh (persembahan) di sumber. Laki-laki 50-an tahun itu, juga menyiapkan ubo rampe berupa; pisang setangkup, kelapa, kinangan (jambe suruh), rokok, kembang telon, minyak wangi sebagai bahan suguh. Hanya Raimun dan beberapa orang saja yang melakukan suguh di sumber. Lainnya menunggu di pinggir Ranu Lingga Rekisi, tempat hajatan syukuran.

Hajatan syukuran selamatan sumber diikuti ratusan orang. Mereka tanpa mengucap, rasa syukur itu terpancar dari raut wajah mereka. Masing-masing kelompok membawa sajian tumpeng ingkung (ikan ayam utuh satu ekor). Terlebih, mereka khusuk ketika Raimun mengucapkan ujub (doa tradisional berbahasa Jawa).

Doanya, tidak lain berisi rasa syukur dan terimakasih atas kelancaran sumber air, kelestarian hutan, keselamatan dan ketenteraman masyarakat pengguna air. Berserah diri dan memohon perlindungan atas segala gangguan, bala, penyakit, dan bencana. Sebagaimana masyarakat tradisional Jawa, rasa syukur itu tidak hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan dengan lambang-lambang dalam ubo rampe suguh maupun sajian tumpeng ingkung.

Baca juga: Clurit Sakerah

Berkaca dari peristiwa dan ritual selamatan syukuran sumber air ini, masyarakat desa pinggiran hutan tidak dapat melepaskan dirinya dengan hutan yang di dalamnya mengandung sumber air besar. Air menjadi sumber kehidupan mereka, dan hutan sebagai penjaga kelangsungan mata air. Mereka menyatu karena sumber kehidupan: air!

(Editor: L. Nandini)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *