Melawan Kekuasaan Despot

Judul buku    : Haji Murat
Penulis           : Leo Tolstoy
Penerjemah  : Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit         : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Cetakan         : I, Februari 2009
Tebal              : 191 halaman

Di samping sebagai novelis terkemuka dunia, Leo Tolstoy (1828-1910) pada masa mudanya mengikuti wajib militer Rusia. Dia dikirim ke Kaukasus, wilayah konflik yang terletak di pegunungan antara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Pada bukunya Cerita-cerita Sevastopol (Sevastolpolskye Rasskazi) diceritakan, pada saat perang Krim (1853-1856), Rusia melawan sekutu (Turki, Inggris, Prancis dan Sardinia), Tolstoy tergabung dengan resimen altileri berpangkat letnan dua. (hal. 5).

Baca juga: PHK

Namun, wajib militer bagi Tolstoy bukan untuk penakhlukan. Medan perang adalah sekolahan untuk memperoleh pengetahuan dan gambaran yang sebenarnya tentang peperangan beserta akibat-akibat yang ditimbulkan, tidak hanya pada manusia secara individu tetapi juga atmosfir kehidupan yang berpengaruh pada nilai-nilai kemanusiaan.

Menyimak karya-karyanya, seperti Cerita-cerita Sevastopol, Orang-orang Kosak, Perang dan Damai, dan Anna Karenina, akan memperoleh gambaran sosok Tolstoy bukanlah “serdadu seperti peluru”, namun ia adalah seoarang yang cerdik pandai yang dapat menangkap kesan dan pesan dari situasi konflik. Novel tersebut adalah hasil pengamatan yang jernih dari semangat, kejiwaan, dan pengaruh buruk orang-orang yang terlibat konflik. Dia mencatatnya dengan rinci, realistik, dan berhasil menangkap maknanya.

Pun demikian dengan novelnya yang berjudul Haji Murat ini. Kisahnya terinspirasi dari seorang pejuang muslim Chechnya yang terbunuh tahun 1852. Meskipun tidak setebal novelnya yang lain, novel Haji Murat dengan piawai digambarkan situasi perseteruan antar kelompok, termasuk Rusia di dalamnya. Novel ini begitu tegas dan jelas menggambarkan watak tokoh-tokohnya.

Novel ini memberikan makna, betapa pemberontakan, perlawanan, dan pertempuran tiada pernah berakhir dengan kekuasaan yang bersifat despot. Kekuasaan yang kuat dan absolut adalah pemegang hukum, yang berpihak pada diri dan kelompoknya.

Despotisme membentuk struktur kekuasaan yang saling menindas. Rakyat memiliki kedudukan yang paling lemah, dan menjadi korban utamanya. Kekuasaan semacam ini cenderung dipertahankan dengan kekuatannya, sementara kemanusiaan menjadi sirna. Sebaliknya, yang diperlihatkan dalam novel pamungkas Leo Tolstoy ini, struktur kekuasaan yang memciptakan mental “penjilat” bawahan kepada atasan. Semboyan ABS (asal bapak senang) menggema diantara pesta dan foya-foya.

Baca juga: Clurit Sakerah

Stuktur kekuasaan semacam itu yang dilawan Tolstoy dalam novel yang tidak setebal Perang dan Damai ini. Perlawanan yang menjadi bagian perluasan pandangannya tentang pasifisme yang disuarakan ke seluruh dunia. Sebuah perlawanan terhadap perang atau kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan pertikaian. Semangat pasifisme yang tersirat dalam novel ini seperti halnya disuarakan secara puitis oleh Martin Luther King Jr “Membalas kekerasan dengan kekerasan akan melipatgandakan kekerasan, menambahkan kekelaman yang lebih mendalam kepada malam yang sudah tidak berbintang. Kekelaman tidak dapat menghalau kekelaman: hanya terang yang dapat melakukannya. Kebencian tidak dapat menghalau kebencian: hanya cinta kasih yang dapat melakukannya. Kebencian melipatgandakan kebencian, kekerasan melipatgandakan kekerasan, dan ketegaran melipatgandakan ketegaran dalam lingkaran kehancuran yang kian mendalam”.

Haji Murat, tokoh utama, digambarkan seperti terseret begitu saja dalam situasi konflik. Ia menjadi pemimpin perlawanan lebih disebabkan oleh hubungan individual dengan sanak saudaranya yang terbunuh. Meskipun punya kecepatan bergerak, cekatan menunggang kuda, piawai menggunakan senjata, namun sesungguhnya Haji Murat adalah orang yang rajin sembahyang, dan cinta pada kehidupan.

Dalam novel ini juga tergambarkan tokoh-tokoh pasukan yang jemu, komandan yang suka foya-foya, menteri penjilat, juga Tsar yang menganggap dirinya sumber kebijakan. Watak-watak tokoh itu saling bertemu dalam jalinan kisah yang mudah diikuti.

Novel Haji Murat dibuka dengan metafora alam yang sesungguhnya menjadi pesan moral novel ini. Di sebuah ladang yang baru saja dibajak. Tumbuhan dan makhluk hidup di ladang itu musnah tergerus mesin bajak. Hanya tinggal sebatang bunga pulutan, (bunga “tartar”). Bunga semak ini adalah bunga yang kuat dan indah. Telah dilumat roda bajak hingga batangnya patah, bunganya yang merah hancur dan warnanya menjadi hitam karena lumpur. Tetapi bunga “tartar” malang itu tetap berdiri, tidak menyerah. Alangkah besar daya hidupnya.

Baca juga: Literasi di Taman Anggrek

Demikianlah Haji Murat dan pendukungnya, harus menghadapi dua kubu lawan sekaligus; kelompok Shamil sesama muslim sewilayahnya juga, dan kekuasaan besar Rusia. Melawan Shamil dan Rusia amat berbeda. Menghadapi Shamil seperti menghadapi bangsanya sendiri; kawan dan lawan berbaur menjadi satu.

Bulan November 1851, Haji Murat dan pendukungnya sudah terjepit. Tinggal beberapa muridnya saja yang setia mengawal. Ia hampir terbunuh di sebuah aul (pemukiman di Kaukasus, Chechnya), karena orang yang tak suka kepadanya membocorkan keberadaannya kepada Shamil. Beruntung pula Haji Murat ada penduduk lain yang memberitahunya soal pengkhianatan itu.

Haji Murat terpaksa memusuhi Shamil karena telah membunuh kerabatnya dan menghalangi untuk khazawat (menerima ajaran Islam).

Pertempuran terus menerus tidak menguntungkan baginya dan penduduk Kaukasus. Setelah mempertimbangkan dengan masak Haji Murat menyeberang ke pihak Rusia. Memperbaiki hubungan dengan Shamil tidak mungkin, karena dendam turun-temurun, dan kepercayaan kedua belah pihak sudah lenyap. Maka, Haji Murat menyerahkan diri kepada pangeran Vorontsov.

Pangeran Vorontsov dan istrinya serta pengawalnya menerima baik penyerahan Haji Murat. Perwira muda ini mempercayai kejujuran Haji Murat, sebaliknya Haji Murat menganggapnya kunak (saudara) karena penerimaan Vorontsov yang hangat. Penyerahan diri Haji Murat akhirnya sampai juga pada Tsar. Perjalanan penyampaiaan informasi ini dipenuhi intrik watak penjilat bawahan Tsar.

Namun masalahnya penyerahan diri Haji Murat tersiar luas. Maka, Shamil menahan keluarga Haji Murat untuk dijadikan perisai. Kecemasan Haji Murat menghantuinya sepanjang hari di awal tahun 1852. Kekhawatirannya terutama pada putranya yang masih belia, bernama Yusuf. Ibaratnya, dirinya terbelah jadi dua. Tubuhnya berada di Rusia tetapi jiwanya pada keluarga yang tertawan.

Haji Murat meminta bantuan Tsar lewat pangeran Vorontsov untuk membawa keluarganya ke Rusia, agar dirinya bisa mengabdi sepenuh hati kepada Rusia. Namun, permintaan itu tidak pernah kesampaian dengan berbagai alasan pihak Tsar kepada Haji Murat. Di sini, novel ini, mulai menguak bahwa pertentangan Haji Murat dengan Shamil adalah strategi adu domba pihak Tsar dan bawahannya, dengan tujuan penyerahan Haji Murat kepada Rusia.

Haji Murat menyadari terancamnya keluarga di Kaukasus. Dia dengan murid-murid setianya berusaha membebaskan sendiri keluarganya. Namun naas bagi milisi humanis Kaukasus ini. Ia dan murid-muridnya dibantai di ladang bersemak oleh tentara Rusia karena dianggap mau melarikan diri.

Sebuah akhir pohon tartar yang mengenaskan. “Kematian inilah yang mengingatkan saya pada pulutan yang terbajak di tengah sawah.” (hal. 189).

Baca juga: Kebijaksanaan Seorang Maestro Sastra

Novel yang edisi Indonesia diterjemahkan Koesalah Soebagyo Toer ini, tidak mengilangkan kata-kata lokal. Kesan geografis dan geopolitik Chechnya masih terasa kental. Isinya merupakan permasalahan universal yang tak pernah lekang sepanjang jaman. Penulis berjanggut panjang ini dalam novelnya yang menggigit telah membentangkan spirit sebuah penggalan sejarah untuk direnungkan maknanya. Bahwa kejahatan, penindasan, dan ketidak adilan patut dilawan.

*) Iman Suwongso bergiat di Komunitas Belajar Menulis (KOBIS) “Merajut Sastra” di Malang. Telah menerbitkan kumpulan cerpennya “Si Jujur Mati di Desa Ini” (Penerbit Kota Tua, Mei 2017). Sedang menyiapkan dua kumpulan cerpen: 1) “Topeng di Meja Bupati”, 2) “Perempuan Kunang-kunang”.

(Editor: A. Elwiq Pr)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *