
Judul : The Complete Works of Oscar Wilde (Stories – Plays – Poems – Essays)
Penulis : Oscar Wilde
Editor : JB Foreman
Penerbit : Collins London And Glasgow
Tebal : 1.216 halaman
Vyvyan Holland, putra kedua Oscar Wilde menulis tentang ayahnya dalam enam lembar halaman untuk mengantar karya-karya ayahnya berupa 14 cerita, 9 drama, 88 puisi, dan 17 esai, berjumlah seribu lebih halaman. Vyvyan mengawali cerita bahwa kakek buyutnya, Colonel de Wilde asal negeri Belanda yang kemudian bermukim di Irlandia.
Baca juga: Semut-Semut Budaya
Colonel de Wilde adalah anak seorang pelukis yang karyanya dikoleksi Galeri Seni di Den Haag, sedangkan si kakek buyut pada akhir abad ke-17 mengabdikan diri sebagai bala tentara Raja William III dari Inggris yang mendapat julukan ‘lebih Irlandia dari orang Irlandia’. Colonel de Wilde pun menetap di Irlandia.
Sir William Wilde, kakek Vyvyan memilih jalannya sendiri berbeda dari ayahnya. Ia menjadi ahli telinga dan spesialis menangani permukaan mata sekaligus menekuni ilmu fisika dengan reputasi internasional. Bahkan, di era itu ia berhasil mengoperasi mata katarak yang diidap Raja Oscar dari Swedia.
Istrinya, Lady Wilde yang sebelum menikah bernama Jane Francesca Elgee seorang Nasionalis Irlandia yang setia. Ia penulis artikel dan menciptakan puisi-puisi garang untuk koran The Nation dengan nama pena Speranza yang ia adopsi dari moto hidup ‘Fidanza, Constanza, Speranza’ – Keimanan, Keajegan, Harapan.
Mereka dikaruniai tiga anak: William, Oscar, dan Isola. Oscar dan dua saudaranya lahir di Westland Row, Dublin. Sekarang ada di wilayah Republik Irlandia.
Oscar Wilde dilahirkan pada 10 Oktober 1854, mengawali pendidikannya di sekolah priyayi Portora di Enniskillen, Irlandia Utara –saat ini ada di wilayah Britania Raya- yang membawanya ke sekolah tingkat lanjut, Trinity College.
Ambisi studi Oscar terpenuhi di Magdalen College Oxford di Inggris. Di kota inilah ia mulai membentuk sikap pikir di bawah pengaruh John Ruskin dan Walter Pater dengan semangat kecintaan pada ‘seni untuk seni itu sendiri’. Oscar Wilde rupanya selangkah lebih jauh berpikir tentang memuja keindahan demi keindahan itu sendiri.
Aestheticism, aliran seni estetik menjadi kata kunci yang ia nyatakan bahwa keindahan adalah hal ideal yang sebaik manusia perjuangkan.
Pasca kehidupan studi, dalam salah satu suratnya Oscar mengakui dirinya pada periode tersebut sebagai masa penuh hura-hura dan bahagia. Apalagi setelah ia memenangkan ‘The Newdigate Prize’ dalam kategori syair berbahasa Inggris, terbaik di aliran klasik.
Dari sini mula ia pindah dari Oxford ke London pada 1879 untuk hidup dari pena-nya. Doktrin yang ia yakini ihwal keindahan, tergambar dalam gaya busananya yang eksentrik.
Baca juga: Kebaya, Kutang dan Centing
Vyvyan mengisahkan, bahwa ayahnya memulai karir di dunia kepenulisan dengan pembawaan lain dari kaum kelas menengah-atas yang konvensional. Penampilan Oscar kontras. Ia tampil dengan busana malam mantel ungu berlipit pita, celana selutut, berikut stoking berbahan satin hitam dipadukan kemeja gombrong berbahan lunak dengan kerah tidur. Menghidupkan era romantik ketika ia hidup dalam masyarakat era industri yang ditandai berdirinya menara Eiffel pada 1889. Penampilan ini diberi sentuhan akhir dasi besar yang menjuntai, kontroversi.
Di lingkungan Oscar, banyak yang sebal alih-alih gemas. Tak sedikit yang mengejek. Menginjak tahun 1880 Oscar menulis puisi-puisinya dan ‘Vera’ (p. 647) sebuah naskah drama yang kekanak-kanakan. Pada usia 26 tahun itu ia pergi ke New York, untuk seminggu dan sialnya tak ada kapal yang bisa membawanya kembali ke London, pada seminggu kemudian.
Di New York, ia mengumpulkan puisinya hingga setahun berlalu dan berhasil dipublikasikan meski tak ada sambutan. Karena uang makin cekak, Oscar muda memutuskan keliling mengajar. Hal ini menjadi bukti ‘hidup dari pena’, dan berhasil pulang ke Inggris, pada 1883. Pulang tanpa kejayaan, sedikitnya ia dikenal di ruang-ruang studi di Amerika.
Sesampai di Eropa, ia memutuskan rehat sejenak di Paris, untuk menyelesaikan naskah drama The Duchess of Padua (p. 576), untuk seorang aktris Amerika, Mary Anderson yang disambut datar-datar saja. Bencana bagi Oscar atas sikap tersebut dan membawa kesedihannya kembali ke Inggris, dan mencoba peruntungan kembali mengajar keliling ke beberapa provinsi di Perancis.
Hidup nomaden tak menggairahkannya, dan ia pun kembali ke London, pada 1884. Kemudian dia menikahi Constance Mary, putri seorang advokat Horace Lloyd QC. Istrinya yang muda dan cantik, membuat Oscar terlibat cinta nan romantis untuk beberapa tahun dalam kebahagiaan yang ideal. Mereka dikaruaniai dua putra. Vyvyan menyebut dengan singkat, “Cyril born in 1885, and myself in 1886.”
Masa-masa awal pernikahan, membawa karya Oscar lebih luas melintasi jalan prosa kecuali puisi The Sphinx (p. 833) sebagai salah satu yang sedikit ia buat pada era tersebut. Hingga ia ditahan karena karyanya berjudul The Ballad of Reading Gaol (p. 843).
Boris Brasol, seorang ahli hukum dari Amerika mengatakan, “ia meniti dunia sastra sebagai pencipta syair yang nyaring dan menyenangkan namun sebagaimana yang Oscar akui sendiri bahwa lebih banyak bersajak-sajak ketimbang bernalar. Maka seiring berjalannya usia tampaknya ia kehilangan selera memuisi. Iapun membenarkan apabila puisi-puisinya sebagai karya tidak matang. Ia kehilangan ketertarikan pada puisi yang menyenangkan bagi dirinya pribadi. Oscar Browning dengan tepat menyebut apa yang dilakoni Wilde ketika muda adalah membuka hati dengan kunci soneta.”
Vyvyan kemudian mengingat percakapannya dengan Sir Compton Mackenzie pada 1954. Ia tinggal di rumah keluarga Wilde di Tite Street bahwa ia pernah membaca catatan Sir Max Beerbohm begini, “aku pernah mendengarkan beberapa begawan di meja jamuan yang dihadiri kalangan terbatas – Meredith dan Swinburne, Edmund Gosse dan Henry James, Augustine Birrell dan Arthur Balfour, Gilbert Chesterton dan Desmond MacCarthy dan Hilaire Belloc – semuanya mengagumkan dengan cara mereka masing-masing, tetapi Oscar adalah yang paling bersinar di antara mereka – manusia paling spontan sekaligus halus budi bahasanya, paling tenang sekaligus paling suka bikin kejutan …”
Baca juga: Warti Sang Wartawan
Bahkan Winston Churchill suatu ketika ditanya, siapa yang ingin ia temui untuk ngobrol dalam kehidupan setelah kematiannya? Ia menjawab tanpa keraguan, “Oscar Wilde.”
Adapun karya tak terlupakan pertamanya adalah The Happy Prince (p. 285) yang terbit pada 1888. Kumpulan cerita dalam buku ini adalah puisi dalam prosa yang niatnya menjadi buku dongeng untuk anak-anak; di masa mendatang diakui sebagai buku yang sepatutnya dibaca anak-anak dan dewasa.
Cerita yang Oscar sampaikan bergaya alegori, apapun tokohnya, diumpamakan memiliki perasaan sebagaimana manusia rasakan. Dalam kerangka menahan laju industrialisasi di segala lini kehidupan. Meskipun pada akhirnya kalah, sebagaimana patung Pangeran Bahagia yang digambarkan Oscar beserta seekor burung layang-layang mati kedinginan di musim salju di bawah kaki si patung. Mereka sudah melakukan hal yang benar dan membela kebenaran yang mereka yakini sejauh-jauhnya.
Pada 1891 ia memproduksi buku terdiri dari empat cerita: Lord Arthur Savile’s Crime (p. 168), The Canterville Ghost (p. 193), The Sphinx Without A Secret (p. 215) and The Model Millionaire (p. 219). Dua cerita yang disebut lebih dulu adalah kisah dramatis dan substansi ceritanya pernah disalin beberapa kali dan cerita-cerita Oscar yang selalu mengandung keriangan dengan hati yang enteng sekaligus keacuhan aneka rupa ekspresi sebagaimana yang ia tulis dalam The Importance of Being Earnest (p.321), pentingnya menjadi orang yang bersungguh-sungguh, hal ini menunjukkan semangat Oscar pada dekade akhir abad ke-19.
A House of Pomegranates (p.224), kumpulan cerita pendek yang sesungguhnya berat hati disebut dongeng dengan ilustrasi karya Charles Shannon RA terbit pada 1891 juga. Karya Oscar kali ini membingungkan para kritikus, ditujukan kepada anak-anak namun tak seorang anak pun faham maksudnya.
Sebuah novel menyusul berjudul The Picture of Dorian Gray (p. 17) yang awalnya diterbitkan oleh majalah Lippincott. Karya tersebut menuai badai kritik, gagasan lahir pada 1884, ia mampir ke studio gambar Basil Ward, salah satu modelnya adalah pemuda belia dengan ketampanan yang cantik Manakala lukisan selesai dan si anak muda pergi, Wilde begitu saja berkata, “sayang sekali mahluk semempesona itu beranjak menua.” Sang seniman menyetujui celetukan Wilde dan menambahkan, “sungguh menyentuh jika ia sebagaimana saat ini saja ketika lukisan memudar dan layu tanpa bisa menggantikannya!” Wilde membingkai pandangan tentang keindahan yang mereka utarakan dalam tokoh bernama Basil Hallward.
Esai yang cukup menarik perhatian dunia bersangkut paut dengan imajinasi dan proses kreatifnya ada dalam kumpulan esai Intentions (p. 970), terdiri dari sembilan tulisan. Antara lain berjudul The Critic as Artist (p. 1009) dan The Soul of Man Undersocialism (p. 1079).
Selebihnya, karya-karya Drama yang ia susun berkibar di dekade terakhir sebelum kematiannya. Di gedung teater Sir James pada Februari 1892 ia diundang ke atas panggung oleh George Alexander atas keberhasilan karya drama, Lady Windermere’s Fan (p. 385) setelah tirai diturunkan. Ia menyampaikan pidato dengan rokok terselip di kaos tangannya, begini: “Nyonya dan Tuan, saya benar-benar menikmati malam ini. Para pelakon telah memberikan kepada kita pertunjukkan yang memukau dan apresiasi anda sungguh-sungguh cerdas. Saya ucapkan selamat kepada para pemain dan kru yang terlibat atas kesuksesan pertunjukkan anda. Yang membesarkan hati saya bahwa anda nyaris sempurna memainkan drama ini.”
Baca juga: Serenada Kenangan Mereka
Pada 3 Januari 1895, drama ‘An Ideal Husband’ yang diproduksi Lewis Waller mengundang decak kagum George Bernard Shaw; “Drama terbaru Tuan Oscar Wilde di Haymarket adalah drama yang berbahaya, karena dia menguasai segala kecakapan yang membuat para kritikus merasa tolol…” Ia memainkan segalanya: dengan kecerdikan, dengan filsafat, dengan dramaturgi, dengan para pelakon dan seluruh yang hadir di dalam gedung pertunjukan. Puncak dari pertunjukan yang ia tulis berjudul The Importance of Being Earnest, pada 14 Februari 1895 menjernihkan duduk soal bagaimana ia masuk bui selama dua tahun.
Vyvyan menutup pengantarnya dengan kelegaan seorang anak yang diam-diam mengagumi ayahnya tanpa benar-benar merasa dekat, “di sepanjang hidupnya, ayah saya condong kepada mistisisne agama dan tertarik pada Gereja Katolik yang telah menerima kematiannya di atas tempat tidur pada 30 1990”. Oscar Wilde dimakamkan di pemakaman nasional Perancis, Lachaise Pere.
Turen, 26 Juli 2024

Oscar Wilde berpulang 30 November 1900 🙏