
Setelah olah raga pagi, seperti biasa saya membaca koran dan melihat sekilas media sosial. Artis berkebaya berseliweran di halaman layar kaca. Seketika saya cek mbah google kapan hari kebaya. Oh, rupanya hari ini, Rabu (24/07/2024), adalah Hari Kebaya Nasional yang belum lama ini disosialisasikan, terkait upaya pendaftaran ke UNESCO. Pantas saja pagi ini perempuan berkebaya seliweran di grup whatsapp dan media sosial.
Baca juga: Serenada Kenangan Mereka
Beberapa hari lalu, seorang teman wartawati mengirim pesan singkat di mana isinya mengajak mengirim tulisan. Tulisan apa saja tentang budaya. Tulisan tersebut nantinya akan dimuat di platform yang sedang dirintis bersama teman-temannya di komunitas sastra.
Selang beberapa hari, seorang teman lain memantik dengan menanyakan apakah ada tulisan tentang kebaya. Ternyata pantikan tersebut untuk mengisi konten tentang Hari Kebaya Nasional yang tak lain jatuh pada hari ini.
Sambil nyetir mobil menuju studio, pikiran berkelana ke masa lalu. Saya ingat emak, nenek dari pihak ibu. Emak selalu berkebaya, pakai sewek dan centing. Kebayanya adalah kebaya kutubaru dengan tambahan kain persegi di dada. Sewek adalah jarik atau kain panjang batik yang biasa dipakai oleh perempuan Jawa. Centing adalah tenunan katun yang padat dan panjang sebagai sabuk atau pengikat kain panjangnya.
Tulisan ini saya ketik seketika tiba di studio karena takut lupa. Meskipun diawali dengan konten tentang kebaya, tapi pikiranku justru mengajak untuk membahas tentang centing, temannya kebaya. Mungkin karena tulisan ini dipantik oleh pertemanan, maka naluri mengajak untuk membahas temannya kebaya, si centing.
Centing sekarang sudah hampir tak pernah dipakai. Sebagai gantinya adalah korset yang lebih praktis dan lebih lentur. Centing biasanya ditenun menggunakan benang katun, tekstur tenun polos dan sangat padat. Lebar sekitar 15-25 centimeter dengan panjang 7-15 meter. Umumnya berwarna putih, hitam, atau merah tua.
Baca juga: Warti Sang Wartawan
Selain sebagai pengikat kain, centing juga berfungsi menutup perut dan pusar supaya tidak mudah masuk angin. Emak biasanya memakai kebaya kutu baru dari bahan katun voile motif bunga, dipadu dengan sewek berwarna sogan (coklat). Di bagian dalam, dipakailah kutang katun warna putih. Nah, centing dililit di pinggang untuk menutup bagian perut yang terbuka di antara kutang dan sewek.
Selain fungsi yang sebenarnya, emak juga biasa menyelipkan uang cadangan di antara lilitan centing. Katanya buat jaga-jaga kalau uang yang di kantong serutnya hilang atau kecopetan. Kantong uangnya biasanya diselipkan di dalam kutang. Sedangkan uang kertas cadangan yang nilainya lebih besar diselipkan entah di lapisan ke berapa dari lilitan centing tersebut. Bayangkan 7 meter kain yang dililit di pinggang akan menghasilkan berapa lapisan lilitan. Multifungsi juga si centing ini.
Sambil nyetir aku memikirkan centing yang lain. Bagi perempuan peranakan sepertiku, aku tidak memakai centing sehari-hari. Tapi aku pernah memakai centing ketika pasca melahirkan. Setelah melahirkan secara normal. Tibalah aturan-aturan perawatan tubuh pasca melahirkan kombinasi ala Jawa dan Cina. Salah satunya adalah pemakaian bobok (ramuan balur perut) yang kemudian harus dibungkus gurita. (semacam korset kain) dan diperkuat dengan centing.
Perawatan tubuh yang menyiksa alih-alih menyenangkan seperti spa. Menyiksa karena lilitan centing panjang sekali, membuat badan dipaksa tegak, perut tertarik hingga kurang leluasa bernapas. Ditambah lagi ketika tiba saat menyusui, si jabang bayi rewel, susah mencari posisi nyaman. Alhasil, centing yang baru terpasang mesti dilepas untuk dikendorkan dulu. Peristiwa ini berulang beberapa kali dalam sehari hingga 40 hari. Melelahkan dan menyiksa sih.
Bagaimanapun buruknya pengalaman saya dengan si centing, aku tetap menyimpannya baik-baik sebagai warisan keluarga. Centing buatku menjadi simbol pendisiplinan seorang ibu. Bukan sekedar perawat tubuh agar tetap langsing dan singset. Lebih dari itu centing juga membantu menopang dan memperkuat tulang belakang pasca melahirkan untuk kuat menggendong bayi di kemudian hari dan kekuatan tubuh perempuan kelak.
Baca juga: Tas Cokelat
Menarik juga memaknai centing sebagai bahasa kasih lintas generasi antar perempuan. Ungkapan kasih yang tidak melulu hadir dalam bentuk kelembutan, namun juga ketidaknyamanan. Sebagaimana keyakinanku bahwa kain dan pakaian adalah bahasa simbol yang perlu diretas maknanya.
Barangkali setelah Hari Batik dan Hari Kebaya, akan tiba hari kutang dan hari centing, sebagai teman mereka yang masih termarjinalkan.
Lusiana Limono, Master of Arts Institut Kesenian Jakarta (IKJ)
(Editor: L. Nandini)

Emak-ku juga pakai, baca ini ingat masa2 itu.
kenangan Adalah harta yang tak bisa direbut oleh siapapun. terimakasih Arie.