
Judul : Life’s Wisdom dari Berbagai Karya sang Penerima Nobel
Penulis : Naguib Mahfouz
Editor : Aleya Serour
Penerjemah : Uni Mumpuni
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tebal : xxiv + 195 halaman
Tidak bisa disangkal Naguib Mahfouz adalah seorang maestro dalam kesusastraan dunia. Bukan hanya karena dia pernah mendapat penghargaan Nobel bidang sastra, lebih dari itu karena prinsipnya bahwa menulis sebagai pilihan hidup. “Keputusan itu sudah final. Tidak terpikir untuk mencoba sesuatu yang lain atau menyerah jika muncul sesuatu yang lebih menarik,” kata Naguib pada suatu kesempatan.
Baca juga: Kisah Raden Saleh, Pelukis Antikolonialisme yang Namanya Diabadikan di Planet Merkurius
Konsekuensi pilihan itu membawanya untuk senantiasa mencari, menemukan, mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan kehidupan manusia. Di dalamnya mencakup perasaan, pandangan hidup, dan intelektualitas sebagai kebijaksanaan hidup yang disuarakan lewat tokoh-tokohnya.
Menariknya kebijaksanaan hidup penulis kelahiran Mesir 11 Desember 1911 ini sublim dalam kisah yang dirangkai dengan kepiawaiannya mendeskripsikan tokoh maupun latar cerita. Karena itu membaca karya-karya prosa (novel dan cerita pendek) Naguib tidak muncul kesan menggurui.
Tebaran kebijaksanaan tentang kehidupan manusia dalam karya-karya penerima hadiah Nobel Kesusastraan tahun 1988 tersebut dicuplik dan dirangkum oleh penyunting, Aleya Serour, dalam buku bertajuk Life’s Wisdom ini. Cuplikan-cuplikan karya Naguib disajikan dalam dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia atas terjemahan Uni Mumpuni.
Bagi pengagum novel-novel terjemahannya dalam bahasa Indonesia seperti Lorong Midaq, Awal dan Akhir, Anak-anak Gebelawi, Pengemis, Hari Terbunuhnya Sang Presiden, barangkali telah mengenal letupan-letupan kebijaksanaan hidupnya. Namun untuk memperolehnya dengan menelusuri halaman-halaman novel sejumlah 35 novel, ratusan cerita pendek, dan beberapa skenario filmnya akan banyak menyita waktu. Dari sisi ini buku setebal 195 halaman ini menjadi unik. Sang empunya karya memuji buku suntingan Aleya dalam kata pengantar, “Saya yakin, kumpulan informasi yang diperoleh penyunting sedikit demi sedikit dengan susah payah, berdasarkan sudut pandangnya sendiri, akan membentuk ringkasan yang sangat menarik.”
Isi buku ini mencakup 480 kebijaksanaan hidup yang teruntai dalam satu atau beberapa kalimat. Untaian kebijaksanaan hidup itu dikelompokkan dalam delapan bagian. Terlihatlah dalam bagian-bagian itu tentang perjalanan hidup, permainan, cinta, persahabatan, kebahagiaan, sejarah, politik, kejujuran, seni, sains, kematian dan kehidupan sesudahnya, kepercayaan, etika, serta spiritualitas.
Baca juga: Max Havelaar, Novel Karya Multatuli yang Menggemparkan Dunia
Tentang perjalanan hidup dalam bagian cuplikan ini menyuarakan perkembangan eksistensi manusia. Prinsip dasar yang bisa dipetik, perjalanan hidup manusia tidak akan pernah bisa lepas dari lingkungannya. Baik masa lalu, masa kini maupun masa depannya. Ajakan buku ini untuk memelihara kejernihan batin dan tidak terjebak pada “fatamorgana” menjadi salah satu bagian penting. Suatu tamparan yang pedas terasa ketika kita membaca cuplikan Thebes at War, “Betapa banyak orang yang berhasil mendaki gunung ternyata mendapati dirinya masuk jurang yang dalam.” (hal.4)
Lain lagi tentang cinta. Bagian buku ini menelusuri seluk-beluk cinta yang menjadi sumber kekuatan “putih” manusia. Kedahsyatannya tidak ada yang menandingi. Kejahatan, pedang, kesombongan, kekerasan akan luluh olehnya. Love is stronger than everything. Dan yang menandinginya hanyalah Tuhan. Maka orang yang pernah mengalami cinta ibaratnya telah menemukan permata; pengalaman cinta sangat berharga bahkan jika membawa penderitaan. (Pengemis, hal.66)
Lantas bagaimana pandangan penulis berkacamata tebal ini berhadapan dengan politik? Pada bagian ini, Naguib cukup jernih mengalirkan paham kebebasan. Maka yang paling tepat bagi kebebasan manusia dalam hubungan sosial dan politik adalah demokrasi. Namun begitu dalam cuplikan dari Sugar Street, Naguib mengkritik dengan telak kapitalisme yang menjadi ibu kandung demokrasi. Colonialism is the final stage of capitalism (Kolonialisme adalah tahap terakhir kapitalisme). Begitu agungnya nilai kebebasan sampai dikatakan, “Manusia berada paling dekat dengan Tuhannya kalau menggunakan kebebasannya dengan pantas.” (hal.84)
Yang paling menarik dari buku ini adalah memuat pandangan spiritual Naguib Mahfouz yang selama ini kontroversial. Andaikata pandangan bahwa Tuhan menjadi sumber segalanya dihapuskan dalam novel-novelnya barangkali fatwa murtad kepadanya menjadi nyata. Namun dengan tegas dia bilang; “Tuhan adalah kebenaran.” (hal. 145). Atau “Cintailah Tuhan maka Ia akan memberikan segalanya.” (hal.152). Barangkali para penghujatnya dari kalangan agamis yang kolot tidak suka dengan kritik yang ia lontarkan semacam “Agama kita begitu hebat… tetapi kehidupan kita memuja berhala.” Cuplikan-cuplikan ini menunjukkan betapa novelis terkemuka Mesir ini adalah seorang yang religius.
Pada akhirnya ketika kita belum sempat membaca keseluruhan karya pengarang yang meninggal 30 Agustus 2006, buku bersampul gambar jarak dekat wajah Naguib ini sangat membantu menyelami kebijaksanaan hidupnya secara utuh. Terutama bagi generasi yang suka mengorek “kata-kata hari ini”. Kebijaksanaannya yang terpancar memberi penyegaran rohani, pencerahan, dan menjadikanya kacamata untuk melihat dunia ini menjadi lebih terang.
Iman Suwongso: Penulis Cerpen dan anggota Kobis Merajut Sastra.
(Editor: A. Elwiq Pr.)

dark market list tor market bitcoin dark web