
Raden Saleh, namanya telah melegenda sebagai pelukis dunia. Bahkan, pada tahun 2008 silam, maestro seni lukis yang dikenal antikolonialisme tersebut, diabadikan sebagai nama sebuah kawah di Planet Merkurius.
Baca juga: Max Havelaar, Novel Karya Multatuli yang Menggemparkan Dunia
Pelukis berkumis tebal tersebut, lahir di Terbaya, Semarang, Jawa Tengah. Dilansir dari situs kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpsmpsangiran, pemilik nama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman ini, merupakan putra pasangan Mas Ajeng Zarip Husen dan Sayid Husein bin Alwi bin Awal.
Salah satu karya lukisnya yang melegenda, adalah tentang kisah penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan tersebut, berjudul “Historisches Tableau die Gefangennahmen des Javanischen Hauptling Diepo Negoro”.
Penulis Katherina Achmad, dalam bukunya yang berjudul “Kiprah, Karya, dan Misteri Kehidupan Raden Saleh”, menggambarkan sosok Raden Saleh sebagai pelukis antikolonialisme Belanda. Hal ini dapat dilihat dari setiap makna simbolik yang dihadirkan Raden Saleh dalam karya lukisnya.
Sebagai orang pribumi, Raden Saleh mendapatkan bimbingan dari Antonie A.J Paijen, dan J. Th. Bik, untuk menajamkan kemampuannya dalam membuat goresan-goresan sketsa. Raden Saleh juga berkesempatan meningkatkan keahliannya dalam melukis, dengan belajar di Belanda.
Raden Salah berangkat ke Belanda, dengan menumpang Kapal Pieter en Karel pada tahun 1829. Selama berada di Belanda, dia berguru kepada Cornelis Kruseman, untuk melukis potret. Selain itu, dia juga belajar pada Andreas Schelfout untuk melukis panorama.
Selama pengembaraannya di Eropa, Raden Saleh juga memiliki kesempatan berguru pada pelukis dunia Delacroix, dan Horace Vernet. Bahkan, berkat bakat dan kemampuannya dalam melahirkan karya lukis, Raden Saleh juga diangkat menjadi pelukis Kerajaan Belanda.
Kegemilangan Raden Saleh dalam dunia seni lukis, tidak diraih dengan mudah. Dia yang seorang pribumi, harus menghadapi banyak hinaan dan perlakuan rasialis dari teman-temannya di sekolah.
Dalam tulisannya, Katherina Achmad menyebut, Raden Saleh pernah dihina oleh teman-temannya yang datang sambil memamerkan lukisan bunga. Lukisan tersebut seperti nyata, hingga membuat kupu-kupu dan kumbang terkecoh lalu hinggap di atasnya.
Raden Saleh dihina dan ditantang oleh teman-temannya, untuk membuat lukisan sebagus lukisan bunga itu. Usai mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan tersebut, Raden Saleh memilih untuk menghilang dan tidak pernah lagi datang ke sekolah.
Mendapati Raden Saleh tak pernah lagi ke sekolah, teman-temannya yang pernah menghinanya menjadi merasa bersalah dan mendatangi rumah Raden Saleh. Saat tiba di rumah Raden Saleh, teman-temannya kaget karena menemukan Raden Saleh terkapar berlumuran darah di lantai kamar.
Tak hanya itu, sebilah pisau juga terlihat menancap di dada Raden Saleh. Melihat tubuh Raden Saleh telah terbujur kaku, dan berlumuran darah, teman-temannya menjadi histeris.
Di tengah kepanikan tersebut, tiba-tiba Raden Saleh muncul dari balik pintu. Dia mengatakan, lukisan teman-temannya hanya dapat mengelabuhi kumbang dan kupu-kupu, tetapi lukisannya bisa menipu manusia.
Baca juga: Pisau Berkarat Penuh Debu Mengiris Leher di Malam Lebaran
Pengembaraan ke Eropa, untuk mempertajam kemampuannya di dunia seni lukis, dijalani Raden Saleh selama 20 tahun. Setelah itu, dia memilih pulang ke Nusantara, dan menikah dengan seorang wanita Eropa di Batavia, bernama Winkleman. Sayangnya pernikahan itu tidak bertahan lama.
Usai berpisah dengan wanita Eropa kaya raya tersebut, Raden Saleh melabuhkan cintanya kepada seorang wanita bangsawan Jawa, bernama Raden Ayu Danudiredjo.
Raden Saleh berkesempatan untuk melakukan perjalanan menjelajahi Pulau Jawa. Dari penjelajahan yang dimulai sekitar tahun 1865 itu, dia berhasil menemukan serta mengumpulkan berbagai fosil dan benda purbakala.
Pada tahun 1875, dia kembali melakukan penjelajahan ke Eropa, bersama Raden Ayu Danudiredjo. Perjalanan menjelajah Eropa ini, dilakukan sekitar tiga tahun lamanya, dan pasangan suami istri itu kembali ke Jawa pada tahun 1878.
Dua tahun berada di Jawa, Raden Saleh akhirnya meninggal dunia. Tepatnya pada 25 April 1980. Teori konspirasi mewarnai cerita seputar kematiannya. Salah satunya, tentang munculnya cerita Raden Saleh meninggal dunia akibat diracun pelayannya sendiri.
Mangkatnya sang maestro seni lukis tersebut, menjadi duka banyak orang. Hal itu dilukiskan dalam sebuah obituari yang ditulis di Koran Java Bode, dan terbit pada 28 April 1880. Berikut isi obituari tersebut:
“Kita poenja corespondent dari Bogor toelis kabar jang berikoet: pada hari Minggoe tanggal 25 April djam 6 pagi maitnya Raden Saleh diiringi oleh banjak toean-toean ambtenaar, kandjeng toean Assistant, toean Boetmy dan lain-lain toean tanah, hadji-hadji, satoe koempoelan baris bangsa Islam, baik jang ada pangkat jang tiada berpangkat dan orang Djawa, sampe anak-anak Djawa dari Landbouwschool semoea anter itoe mait ke koeboer. Penghoeloe-penghoeloe, kiai-kiai dan orang-orang alim soedah djoega ikoet anter. Itoe orang-orang Selam dan Djawa dan apa lagi itoe jang alim-alim soedah njanji sepandjang djalan dengan soeara jang sedih.”
Sepanjang hidupnya, Raden Saleh telah menorehkan banyak prestasi dan karya di dunia seni lukis serta ilmu pengetahuan. Berkat prestasi dan karya itu, dia diganjar sejumlah penghargaan serta gelar kesatria dari berbagai kerajaan.
Dilansir dari situs kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpsmpsangiran, berikut penghargaan yang diraih Raden Saleh:
1. King’s Painter, Peintre de Sa Majeste le Roi de Pays Bas, Djurugambar dari Sri Paduka Kanjeng Raja Wollanda.
2. Pribumi pertama yang menjadi Anggota Kehormatan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Masyarakat Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan) pada 1866.
3. Anggota Kehormatan Asosiasi Planten en Dierentuin te Batavia (Kebun Botani dan Satwa di Batavia) pada 1866.
4. Anggota regular dari Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Institut Linguistik dan Antropologi Kerajaan) sejak 1851-1875.
5. Anggota donor Hindia Belanda KITLV di Delft, Belanda kurun 1853-1856.
6. Anggota Natuurkundige Vereeniging in Nederlandsch-Indiƫ (Asosiasi Ilmu-ilmu Alam di Hindia Belanda) sejak 1870.
7. Satu-satunya orang Jawa yang memperoleh gelar “Ridder van de Witte Valk” dari Saxe-Weimar.
8. Satu-satunya orang Jawa yang memperoleh gelar “Ridder der Kroonorde van Pruisen” dari Prussia.
9. Gelar “Ridder der Orde van de Eikenkoon” dari Luxemburg.
10. Gelar “Commandeur met de Ster der Franz Joseph Orde” dari Austria.
11. Anugerah Seni sebagai “Perintis Seni Lukis di Indonesia”, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Anumerta) pada 1969.
12. Bintang Mahaputera Adiprana dari Pemerintah Republik Indonesia pada 11 November 2011.
13. Namanya diabadikan sebagai salah satu nama kawah di Planet Merkurius, pada tahun 2008.
